Minggu, 27 Mei 2012

Menjawab Tuduhan (Bagian Ketiga)


AKU ADALAH AKU

Terkadang latar belakang Yahudi Yesus sering dilupakan oleh orang-orang Kristen. Potret Yesus kebanyakan sudah terdistorsi dengan semua hal yang berbau barat. Hal yang lain adalah berhubungan dengan perkembangan dunia politik internasional selama 40 tahun terakhir, khususnya di Timur Tengah. Pertikaian antara bangsa Israel dengan tetangga mereka, bangsa Arab dan Palestina, mempengaruhi pandangan orang-orang Kristen akan Yahudi. Berita-berita internasional selalu mengarahkan kamera dan pena mereka kepada Israel yang selalu digambarkan kejam dan tidak berperikemanusiaan kepada bangsa Palestina. Hal ini membuat orang-orang Kristen selalu menghindarkan diri dari kenyataan bahwa Yesus adalah seorang yang lahir dari keluarga Yahudi dan tumbuh besar di antara adat-istiadat dan kebudayaan Yahudi. Orang-orang Kristen takut dicap sebagai antek-antek zionis Israel yang Yahudi. Tetapi tragisnya hal itu malah membuat Yesus semakin jauh dari akar Yahudinya yang tentu saja mengaburkan asal-usul keyahudianNya.

Mengapa saya menyinggung hal ini dalam bahasan saya mengenai Ketuhanan Yesus?

Karena klaim Yesus mengenai keilahian diriNya berhubungan langsung dengan apa yang diyakini dan dipercayai oleh bangsa Yahudi selama ribuan tahun.

Kita akan mencoba untuk mempelajari sebuah perkataan Yesus, di mana sebanyak 30 kali, Rasul Yohanes, menuliskannya dalam Injilnya, Yohanes. Perkataan tersebut adalah “EGO EIMI”, dalam bahasa Yunani atau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “I AM” dan “AKU adalah” atau “AKULAH” dalam bahasa Indonesia.

Menurut beberapa sumber kuno, Rasul Yohanes, di masa tuanya ketika tinggal di Efesus, diminta oleh para penatua di Asia untuk menuliskan “Injil yang rohani” ini untuk menyangkal suatu ajaran sesat mengenai sifat, kepribadian, dan keilahian Yesus yang dipimpin oleh seorang Yahudi yang bernama Cerinthus. (Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Gandum Mas, 2002, hal. 1695)

Sekali lagi tulisan dari Ajith Fernando dalam bukunya Supremasi Kristus menjelaskan perkataan “EGO EIMI” dengan baik.

Ajith Fernando menulis, ”Dalam bahasa Yunani, akhiran verba beragam menurut subjeknya. Hal ini jarang terjadi dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia, tetapi kata “am” adalah salah satunya. Saat anda melihat kata “am”, anda tahu pasti subjeknya “I”. Hal ini selalu terjadi dalam bahasa Yunani. Tetapi dalam bahasa Yunani, penggunaan subyek dalam kalimat bukan keharusan jika subyek tersebut sebuah pronomina (kata ganti orang) seperti “I” atau “he” atau “we”. Sehingga kalimat seperti “I am the bread” cukup dikatakan “Am the bread” dalam bahasa Yunaninya. Tetapi jika anda memberikan penekanan tentang subyeknya, barulah anda menggunakan kata ganti tersebut. Yohanes melakukan hal ini sebanyak 30 kali dalam pernyataan “I AM”-nya Yesus. Kita bisa mengatakan bahwa Yohanes melakukannya untuk memberikan penekanan khusus.” (Supremasi Kristus, hal 36)

Inilah mengapa kita tidak hanya membaca Alkitab dalam bahasa terjemahan (dalam hal ini bahasa Indonesia), tetapi juga harus membaca dan mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Dalam hal ini, Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani dan sebagian Aram, sedangkan Perjanjian Baru adalah dalam bahasa Yunani. Injil Yohanes yang merupakan bagian dari kitab dalam Perjanjian Baru menggunakan bahasa Yunani. Dari sana kita bisa mengerti bahwa ada maksud yang dituju oleh penulis dari Injil Yohanes mengenai keilahian Yesus, khususnya pelajaran mengenai perkataan “EGO EIMI”, yakni bahwa Yohanes melakukannya untuk memberikan penekanan khusus terhadap pribadi Yesus.

Lebih lanjut Ajith menulis, “Dalam versi terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani atau lebih dikenal dengan Septuaginta, yang sangat populer di abad pertama, saat para penerjemah sampai kepada kata-kata untuk Elohim, “mereka kelihatannya berpikir bahwa kata-kata itu harus diterjemahkan berbeda dari kata-kata untuk manusia.” Sehingga “mereka cenderung menggunakan bentuk penegasan dengan kata ganti “I” (Leon Morris, Reflection on The Gospel of John, vol. 2, Grand Rapids, 1987).” (Supremasi Kristus, hal. 37)

Sebelum lebih jauh, saya akan mengajak anda untuk melihat di dalam kitab Keluaran pada pasalnya yang ke-3. Pada pasal ini Musa bertemu dengan Tuhan di gunung Horeb ketika menggembalakan kambing dan domba mertuanya, Yitro. Tuhan hendak mengutus Musa ke Mesir sebagai alatNya untuk membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan. Musa menanyakan nama Tuhan sebagai antisipasi kalau-kalau orang Israel menanyakan siapa nama Tuhan yang mengutus dirinya. Tuhan menjawab, “AKU adalah AKU. Lagi firmanNya : “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu : “AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (Keluaran 3:14)

Dalam terjemahan Indonesia kita tidak akan melihat dengan jelas. Oleh karenanya saya akan menampilkan bahasa asli dari ayat tersebut dan juga dalam bahasa Yunani (Septuaginta) :

Ibrani :

“VAYOMER {dan Dia berfirman} ‘ELOHIM {Elohim} ‘EL – MOSYEH {kepada Musa} ‘EHEYEH {Aku akan ada} ‘ASYER {yang} ‘EHEYEH {Aku akan ada} VAYO’MER {dan Dia berfirman} KOH {demikian} TO’MAR {engkau harus berkata} LIVENEY {kepada anak-anak} YISERA’EL {Israel} ‘EHEYEH (Aku akan ada} SYELAKHANI {mengutus aku} ‘ALEYKHEM {ke atas kalian}”

Yunani (Septuaginta) :

“KAI EIPEN HO THEOS MOUSEN EGO EIMI HO ON KAI EIPEN AUTOS EREIS TOIS HUIOIS ISRAEL HO ON APESTALKEN ME PROS HUMAS”

Dari Keluaran 3:14 kita dapat mengetahui bahwa inilah nama Tuhan yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri kepada Musa, yaitu : EHEYEH atau oleh para penerjemah PL Ibrani ke bahasa Yunani (Septuaginta) adalah EGO EIMI.

Kita akan melihat beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris :

King James Version (KJV) :
And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.

New International Version (NIV) :
God said to Moses, “I am who I am”. This is what you are to say to the Israelites: ‘I am’ has sent me to you.’”

English Revised Version :
And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.

Kita akan masuk pada pernyataan AKU-nya Yesus dalam Injil Yohanes. Saya akan mengambil satu contoh saja.

Yohanes 6:35 =

“Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

KJV : “And Jesus said unto them, I am the bread of life: he that cometh to me shall never hunger; and he that believeth on me shall never thirst.”

Kita lihat dalam terjemahan aslinya :
“Eipen autois ho Iesous EGO EIMI ho arthos tes zoes....”

Kita dapat melihat bahwa Yohanes menggunakan frasa EGO EIMI yang di mana frasa tersebut dipakai sebagai padanan kata dari EHEYEH dalam bahasa Ibrani yang menunjuk kepada nama Tuhan sendiri.

Setelah melihat dari terjemahan asli dalam bahasa Ibrani dan beberapa terjemahan lainnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa saat “Yohanes menuliskan pernyataan Yesus dengan pronomina yang bersifat penekanan, dia sedang menggunakan ‘gaya bahasa yang menunjukkan Elohim’. Inilah salah satu cara dari Yohanes untuk menunjukkan bahwa Yesus lebih dari sekedar manusia biasa. Yohanes menunjukkan bahwa kata-kata untuk Elohim pantas untuk Yesus.” (Supremasi Kristus, hal. 37)

Satu hal terakhir yang saya mau ungkapkan di dalam tulisan kali ini adalah salah satu perbincangan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi di dalam Bait Elohim.

Yohanes 8 :57,58 =

Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?"

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, AKU telah ada."

Dalam terjemahan Yunaninya pada ayat yang ke-58 :

Eipen autois Iesous Amen amen lego hymin prin Abraam genesthai EGO EIMI

KJV : Jesus said unto them, Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I AM.

Bagi orang-orang yang tidak paham dengan keyakinan orang Yahudi, maka perkataan Yesus tersebut tidak ada pengaruhnya. Tetapi pada masa Yesus, perkataan tersebut sangatlah kontroversial. Orang-orang Yahudi langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus sehingga mereka langsung mengambil batu untuk melempari Yesus (Yohanes 8:59). Perkataan itu berarti bukan saja pada waktu Abraham ada, Yesus ada; tetapi sebelum Abraham ada, Yesus sudah ada dan sesudah Abraham tidak ada, Yesus tetap ada. Itu sebab Yohanes memakai perbedaan tenses di sini, “Before Abraham was, I AM.” Singkatnya, Yesus menyatakan diri sebagai Elohim yang sudah bereksistensi dari dulu, sekarang dan selama-lamanya. Perkataan itu terkait langsung dengan perkataan Tuhan kepada Musa dalam Keluaran 3:14 = EHEYEH ASYER EHEYEH, EGO EIMI HO ON, I AM THAT I AM, AKU adalah AKU. Kalimat ini menyatakan bahwa Elohim itu adalah Elohim yang kekal, yang sudah ada dari dulu, sekarang dan selama-lamanya, Elohim yang menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Orang Yahudi sangat mengerti bahwa kata “I AMhanya bisa diberikan kepada Tuhan Elohim sendiri dan kata itu sekarang dipakai oleh Tuhan Yesus langsung, “Jesus said unto them, Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I AM.”

Setelah anda membaca tulisan ini dan dua tulisan sebelumnya, sudahkah anda menetapkan hati anda untuk mengakui dan menerima dengan sungguh-sungguh bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat? Jikalau belum, sekaranglah waktu yang tepat untuk anda untuk menyatakan pengakuan iman anda kepada Tuhan Yesus. Anda tidak tahu kapan anda akan meninggalkan dunia ini. Tidak akan ada kesempatan kedua atau ketiga atau seterusnya setelah anda meninggalkan dunia ini. 

Yoel 2:32 
Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan

Roma 10:9
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.




Link-link untuk mempelajari Alkitab dari berbagai terjemahan :



Minggu, 20 Mei 2012

Menjawab Tuduhan (Bagian kedua)

Tuduhan “Oke, empat kitab Injil memang menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah menolak atau melarang orang-orang untuk datang menyembahNya. Tapi itu bukan berarti bahwa Yesus adalah Tuhan.”


JawabApabila kita membaca empat kitab Injil dengan seksama maka para penulis Injil-injil tersebut menegaskan keilahian Yesus.

Saya akan mencoba mengambil dari perspektif pengajaran dan perkataan Yesus sendiri. Dalam hal ini saya berhutang banyak kepada tulisan Ajith Fernando, penginjil sekaligus apologet Kristen berkebangsaan Srilanka, yang bersama-sama dengan istrinya memfokuskan pelayanannya kepada para penganut Buddhisme. Apa yang saya tuliskan berikut ini saya kutip dari bukunya yang luar biasa yang berjudul The Supremacy of Christ (Terjemahan Indonesia : Supremasi Kristus, Penerbit MomentumSurabaya, hal. 33-36, 2008).

Yesus berbicara dengan otoritas yang besar. Pada Matius 28:18, Yesus berkata :”KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Pada kesempatan lain Yesus berkata,”Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.” (Matius 24:35). Ajith mengutip perkataan R.T. France, “Setiap guru Yahudi memastikan pengajarannya terdokumentasi dengan sejumlah besar kutipan dari kitab suci dan nama-nama gurunya untuk menambah bobot pendapatnya; otoritasnya sendiri merupakan otoritas sekunder. Tetapi Yesus tidaklah demikian. Dia begitu saja mengabaikan hukum itu”. Yesus tidak berkata,”Kitab suci mengatakan...” atau “Rabi X menyatakan ....” Sebaliknya Yesus berkata, “ Aku berkata ....”

Pengajaran Yesus pada khotbah di bukit menunjukkan dengan lantang hal tersebut. Setelah mengajarkan pengajaran Ucapan Berbahagia, Yesus melanjutkannya dengan tema hukum Taurat. Dalam Matius 5:21-22, Yesus berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita : Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu : setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya : Kafir! Harus dihadapkan kepada Mahkamah Agama dan siapa yang berkata : jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”

Selanjutnya di dalam ayat-ayat berikutnya dalam pasal tersebut di atas terdapat 5 pernyataan sejenis yang mengikuti formula yang sama : “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyan kita : ..... (kutipan dari Perjanjian Lama).” Dan kemudian diikuti oleh : “Tetapi aku berkata kepadamu : ...... (modifikasi terhadap prinsip Perjanjian Lama).”

Yesus mengklaim memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Saat Yesus mengampuni dosa seorang yang lumpuh (Markus 2:5) dan orang mempertanyakan hak-Nya melakukan itu (mengampuni dosa), Ia membuktikannya dengan melakukan mukjizat. “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia mengampuni dosa. Kepadamu Kukatakan, bangunlah dan angkatlah tempat tidurmu dan pulang ke rumahmu! Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu....” –Markus 2:10-12

Dalam Injil Lukas, dikisahkan suatu ketika Yesus datang memenuhi undangan dari seorang Farisi untuk makan di rumahnya. Di kota tersebut ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Perempuan tersebut mengetahui bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi di kota itu. Ia pun mendatangi rumah tersebut dan membasuh kaki Yesus dengan air mata dan menyeka dengan rambutnya. Yesus yang melihat hal ini berkata kepada perempuan tersebut, “Dosamu telah diampuni.” (Lukas 7:36-50)

Yesus tidak hanya mengatakan, ”Ikutlah ajaranKu” – Dia berkata, ”Ikutlah Aku” dan menuntut ketaatan penuh. Dalam Matius 10:37-38, Yesus berkata,”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa tidak memikul salibNya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu (lihat juga dalam Lukas 14:26,27).

Yesus mengambil gelar yang diberikan bagi Elohim dalam Perjanjian Lama. Mazmur 27:1 berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku.” (lihat juga dalam Yesaya 60:20). Yesus berkata, “Akulah terang dunia.” (Yohanes 8:12). Mazmur 23:1 berkata, “TUHAN adalah gembalaku” (lihat juga dalam Yehezkiel 34:15). Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik” (Yohanes 10:11).

Yesus melihat diriNya layak menerima kehormatan yang hanya diberikan kepada Elohim. Yesaya 42:8 berkata, “Aku ini TUHAN, itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain atau kemasyhuranKu kepada patung” (lihat juga Yesaya 48:11). Yesus berdoa, “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau... Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yohanes 17:1,5). Yesus berkata, “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.” (Yohanes 5:22-23). Dalam Injil Matius, Yesus berkata juga, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Matius 16:27).

Yesus menyatakan memiliki hubungan Bapa-Anak yang unik dengan Elohim. Ia menyebut diriNya Anak Elohim, dan menyebut Elohim “BapaKu”. Penyebutan “BapaKu” bukan cara yang biasa yang digunakan oleh orang Yahudi dalam memanggil Elohim. Mereka memang menyebut “Bapa kami”, walaupun dalam menggunakan kata “Bapaku” dalam doa, biasanya mereka memberi tambahan seperti “di dalam surga” untuk menghilangkan kesan kekeluargaan. Yesus tidak melakukan hal itu. Dalam kitab-kitab Injil, Yesus malah ingin menegaskan bahwa diriNya memiliki hubungan yang unik dengan Elohim yang tidak mungkin dimiliki manusia. Saat Yesus meredakan badai dan para murid menjadi tahu bahwa Dia bukan manusia biasa, mereka “menyembah Dia”. Mereka mencapai kesimpulan, “Sesungguhnya Engkau Anak Elohim.” (Matius 14:33).

Yesus menyatakan diri sebagai hakim atas umat manusia. Yesus berkata, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaanNya” (Matius 25:31). Dalam ayat 32-46, Yesus menjelaskan bagaimana Dia akan menghakimi bangsa-bangsa. Mengenai diriNya, Yesus berkata, “Ia (Bapa) telah memberikan kuasa kepadaNya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Elohim” (Yohanes 5:27). Leon Morris, seorang ahli Perjanjian Baru, menyatakan, “Jika Yesus bukan Elohim, pernyataan ini sama sekali tidak berdasar.” Lebih lanjut Morris berkata, “Tidak ada satu makhluk pun yang dapat menentukan nasib kekal sesamanya.” (The Lord from Heaven, Leicester dan Downers Grove, III : InterVarsity Press, 1974, 36).

Yesus menyatakan bahwa nasib kekal manusia tergantung pada hubungan mereka denganNya. Ia berkata, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:35-37).

Yesus menyatakan bahwa Dia bisa memberikan kepada kita hal-hal yang hanya bisa diberikan oleh Elohim. Yesus berkata, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya (Yohanes 5:21; Yohanes 11:25). Dia berkata akan memberikan “mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14). Dia berkata akan memberikan “Damai sejahteraKu” (Yohanes 14:27) dan “sukacitaKu” (Yohanes 15:11). Di dalam pernyataan “Akulah” dalam Injil Yohanes, kita menemukan Yesus berkata bahwa Ia akan memberikan roti kehidupan (Yohanes 6:35), terang kehidupan (Yohanes 8:12), dan topangan untuk menghasilkan buah (Yohanes 15:1-8). Yesus mengatakan bahwa Dia adalah pintu menuju keselamatan (Yohanes 10:7-9) dan jalan menuju keselamatan (Yohanes 14:6) dan hidup yang mengalahkan kematian (Yohanes 11:25,26).

Ajith Fernando dalam bukunya tersebut juga menyatakan, “Apa yang Yesus katakan tidak akan berani dikatakan oleh manusia biasa yang waras.”

C.S. Lewis pun pernah menyatakan hal tersebut mengenai perkataan dan pengajaran Yesus. Ia menulis, “Di sini saya sedang berusaha untuk mencegah siapapun mengatakan hal yang benar-benar bodoh yang seringkali dikatakan orang tentang diri-Nya: “Saya siap menerima Yesus sebagai seorang guru moral yang agung, tetapi saya tidak menerima klaim-Nya bahwa Ia adalah Elohim.” Itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya kita katakan. Jika ada seorang manusia biasa yang mengatakan hal-hal seperti yang Yesus katakan, orang itu tidak akan bisa menjadi seorang guru moral yang agung. Ia entah akan menjadi seorang yang sinting – yang setara dengan seorang yang mengatakan bahwa ia adalah telur yang ditim – atau sebaliknya, ia akan menjadi sang iblis dari neraka. Anda harus menentukan pilihan anda. Entah orang ini dulu dan sekarang adalah Putra Elohim atau orang gila dan bahkan lebih buruk lagi. Anda bisa membungkamnya sebagai orang yang bodoh, anda bisa meludahiNya dan membunuhNya sebagai roh jahat; atau anda bisa tersungkur di kaki-Nya dan menyebut-Nya Tuhan dan Elohim. Tetapi hendaklah kita tidak menciptakan omong kosong apapun yang merendahkan tentang keberadaan-Nya, bahwa Ia adalah seorang manusia yang agung. Ia tidak memberikan kemungkinan itu kepada kita. Ia tidak bermaksud demikian.” (Mere Christianity, Pionir Jaya, 2007, 87).

Dalam artikel berikutnya, saya akan menuliskan penjelasan tentang perkataan "I Am"-Nya Tuhan Yesus yang akan menegaskan bahwa Yesus Kristus bukanlah sekadar manusia biasa.

Minggu, 13 Mei 2012

MENJAWAB TUDUHAN (BAGIAN SATU)


Setelah dalam dua postingan sebelumnya saya menjelaskan mengenai pentingnya Apologetika dan mempelajari teologi, maka saya akan masuk ke dalam tema-tema apologetik dan teologis. Seperti telah saya jelaskan sebelumnya bahwa sejak dari mula kekristenan mendapat serangan yang tidak hanya berasal dari dalam tubuh kekristenan itu sendiri tapi juga berasal dari luar. Dalam sepuluh tahun terakhir saya melihat bahwa wilayah-wilayah yang dulu merupakan lumbung kekristenan menjadi wilayah-wilayah yang paling banyak angka beralihnya seorang Kristen menjadi pemeluk agama lain atau menyatakan diri tidak lagi mempercayai bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan hidup. Amerika Serikat dan Eropa Barat adalah contoh paling nyata mengenai kenyataan pahit tersebut. Tetapi di sini saya menegaskan bahwa apa yang saya tulis sebagai kenyataan pahit tersebut bukan karena saya melihat bahwa jumlah pemeluk Kristen semakin berkurang, atau dengan kata lain saya menilainya dari segi kuantitas. Tetapi adalah karena semakin banyaknya jiwa-jiwa yang terhilang dari hadapan Bapa.

Oleh karena itulah betapa pentingnya Apologetika dan penguatan pembelajaran Teologi di dalam gereja. Jemaat Kristen mula-mula bertumbuh kuat karena “... mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul...” (Kisah Para Rasul 2:42). Ketekunan tersebut membuat kualitas iman jemaat Kristen mula-mula menjadi tinggi. 200 tahun awal pertumbuhan kekristenan diwarnai berbagai penolakan bahkan penganiayaan terhadap jemaat mula-mula. Tidak hanya dari orang-orang Yahudi bahkan dari orang-orang kafir. Tetapi kekristenan bukannya habis malah semakin bertumbuh subur. Semakin dihambat malah semakin merambat. Saya yakin bahwa apa yang menjadi kekuatan jemaat mula-mula dalam menghadapi penganiayaan itu karena mereka mengenal dengan baik Junjungan Agung mereka, yaitu Tuhan Yesus, dan hal itu pastinya melalui sebuah proses pembelajaran yang tekun akan kredo iman Kristen.

Dalam postingan kali ini dan mungkin untuk selanjutnya, saya akan mencoba untuk mengambil dari sudut apologetika mengenai hal-hal yang biasa dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai kekristenan. Terlebih dahulu saya nyatakan bahwa di dalam artikel ini saya berhutang banyak kepada penulis-penulis buku kekristenan yang buku-bukunya saya baca, seperti Ajith Fernando, Cornelius Platinga, Jr., Charles Colson, C.S. Lewis, Craig A. Evans, John Piper, Joshua Harris, N.T. Wright, J.I. Packer, Jerry Bridges, Ravi Zacharias, dll. Tentu tidak lupa kepada Tuhan Yesus, sang Guru Agung, yang telah mewarisi Alkitab yang ditulis oleh orang-orang pilihan Tuhan yang dibimbing oleh Sang Hikmat Agung, Roh Kudus.

========================================================================

Tuduhan : Yesus tidak pernah berkata,“Akulah Tuhan, sembahlah Aku!” Oleh karena itu Yesus bukan Tuhan.

Jawab : Inilah pertanyaan yang sering diajukan oleh para penanya yang anti Kristen. Pertanyaan yang saya anggap lelucon menyenangkan.

Apa yang tidak diketahui oleh penanya tersebut adalah bahwa Yesus lahir dan besar di tengah-tengah kebudayaan Yahudi yang sangat mengerti dan meyakini bahwa hanya Tuhan-lah yang disembah dan apa atau siapa yang kepadanya diberikan sembah sujud berarti apa atau siapa tersebut adalah Tuhan.

Yang paling penting adalah Tuhan itu disembah bukan karena Ia menuntut kepada manusia untuk menyembah diriNya seakan-akan Tuhan itu seorang pribadi yang gila hormat dan haus penyembahan. Tuhan disembah karena kekudusan, kemuliaan dan kedahsyatan kuasaNya. Kualitas keilahian inilah yang membuat Tuhan dihormati, dipuja, ditakuti dan tentu saja disembah. Tuhan tetaplah Tuhan sekalipun tidak ada yang menyembah diriNya.

Di dalam Alkitab memang tidak ada satu kata pun keluar dari mulut Yesus menuntut orang-orang untuk menyembah diriNya. Tetapi terdapat bukti-bukti alkitabiah yang menunjukkan bahwa walaupun Yesus tidak pernah menuntut penyembahan atas diriNya, Ia tidak pernah melarang atau menolak orang-orang yang ada di sekitarnya untuk menyembahnya.

Matius 28:17 :
“Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.”

Markus 5:6
“Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya,”

Lukas 24:52
“Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat
bersukacita.”

Yohanes 9:38
“Katanya: “Aku percaya, Tuhan!‟ Lalu ia sujud menyembah-Nya.

Di dalam Injil, kata Yunani untuk penyembahan adalah proskunesai dan prosekunesan yang mempunyai bentuk dasar proskuneo. Kata dasar proskuneo ini hanya dipakai untuk penyembahan kepada Elohim Bapa. Penyembahan ini tidak dapat diberikan kepada hal-hal lain. Tuhan sendiri dengan tegas menyatakannya di hadapan Musa dan seluruh bangsa Israel di gunung Sinai dan ditulis sendiri oleh Tuhan sebagai bagian dari Sepuluh Perintah Elohim :

Keluaran 20: 2 = “Akulah TUHAN, Elohimmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.”

20:3 = “Jangan ada padamu elohim lain di hadapanKu.”

20:5 = “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya...”

Ratusan tahun sesudahnya, Tuhan yang sama dengan tegas menyatakannya kembali dalam kitab nabi Yesaya :

42:8 = “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.”

Yesus lahir dan besar dalam keluarga Yahudi. Ia pasti sangat tahu dan mengerti hukum penyembahan yang vital tersebut. Tetapi ternyata dengan jelas Yesus tidak pernah menolak atau melarang orang-orang datang untuk menyembah diriNya. Jika Yesus hanya seorang guru atau atau nabi, maka Yesus pasti dengan tegas dan lantang berkata : “Saya hanya guru atau nabi. Jangan menyembah Saya!” Yesus harus melakukan peringatan ini berulang-ulang bahwa melakukan penyembahan selain kepada Elohim merupakan dosa yang sangat serius. Tetapi faktanya adalah bahwa tidak ada satu dokumen pun yang menyatakan bahwa Yesus melakukan peringatan-peringatan tersebut. Empat kitab Injil menyatakan dengan tegas bahwa Yesus tidak pernah melarang atau menolak orang-orang menyembah diriNya

Minggu, 29 April 2012

Mengapa Berteologi?


Maukah anda menyerahkan nyawa untuk suatu perkara yang tidak Anda pahami sepenuhnya? Maukah Anda berusaha meyakinkan orang lain untuk bergabung dengan Anda dalam tindakan itu? Tidak, saya juga tidak mau.

Pernyataan di atas saya kutip dari kata pendahuluan buku terakhir yang ditulis (alm) Charles Colson, The Faith. Colson menjelaskan bahwa, “kebanyakan orang yang mengaku Kristen tidak tahu apa yang mereka percayai, dan karenanya tidak dapat memahami atau membela iman Kristen-apalagi hidup di dalamnya.” Hal tersebut membuat pengajaran-pengajaran yang disampaikan kepada orang yang tidak percaya tidak menggambarkan kekristenan sejati.

Saya yakin dalam hal ini Colson tidak berdiri sendirian. Ada banyak orang-orang seperti Colson yang merasa bahwa banyak orang yang mengaku Kristen bahkan tidak tahu doktrin-doktrin asali kekristenan, seperti doktrin tentang Elohim, Yesus Kristus, Roh Kudus, Gereja, dan lain-lain. Jangankan berdiskusi tentang doktrin-doktrin tersebut, orang-orang yang mengaku Kristen bahkan tidak tahu atau lupa siapa tokoh-tokoh dalam Alkitab atau peristiwa tertentu dalam Alkitab.


Luke Timothy Johnson, seorang ahli Perjanjian Baru mengamati :

Umumnya orang Amerika memiliki pengetahuan Alkitab yang sangat dangkal. Dalam dunia di mana kebanyakan orang hampir tidak mengenal isi Alkitab, jika media menampilkan tajuk utama yang memberitakan bahwa fakta tertentu tentang Yesus telah dibuktikan secara tidak benar melalui penelitian yang kelihatannya ilmiah, berita itu seperti kedengaran seperti injil. Kebanyakan orang tidak mempunyai dasar untuk membantah pernyataan-pernyataan yang kedengarannya berwibawa itu.” (dikutip dari kata pendahuluan buku : Reinventing Jesus, Perkantas – Divisi Literatur, Cetakan ke-1, 2011)

Tidak hanya di Amerika Serikat, saya melihat bahwa gejala ketidakmelekan Alkitab sedang tumbuh subur di dalam gereja. Banyak jemaat yang ternyata sangat dangkal pemahaman Alkitabnya. Mereka menganggap bahwa mereka hanya cukup mendengar apa yang pendeta atau pastor mereka khotbahkan tapi tidak mencoba untuk mengambil waktu untuk merenungkan atau mempelajari apakah khotbah yang diucapkan oleh pendeta atau pastur itu Alkitabiah atau tidak. Saya tidak mencoba untuk membangun suatu opini bahwa kita harus menghakimi pendeta atau pastur atas khotbah yang mereka sampaikan. Tapi saya mencoba untuk mendorong jemaat-jemaat Kristen untuk juga dapat berpikir agar tidak terjebak dan jatuh dalam pengajaran yang salah. Saya tidak menuduh seluruh gereja, karena saya masih melihat banyak gereja yang mengutamakan pendalaman Alkitab dalam mengajar jemaat.

Para Pendeta pun tidak lepas dari masalah ini. Sebagai orang-orang yang mempunyai pengetahuan lebih tentang kekristenan sudah seharusnya mereka membimbing jemaat Tuhan dalam kebenaran. Tapi saat ini para pendeta lebih suka memikirkan bagaimana untuk menyenangkan telinga jemaat Tuhan daripada memikirkan sebuah khotbah untuk kemuliaan Tuhan. Para pendeta dan penginjil lebih takut kehilangan jemaat di gerejanya ketimbang takut dengan penghukuman Tuhan. Para pendeta tidak lagi berkhotbah dengan cara menekankan pembelajaran Alkitab karena takut khotbah mereka akan menjadi lama dan membosankan di hadapan jemaat. Hasilnya adalah jemaat-jemaat Tuhan yang instan dan tidak berakar dalam kebenaran Firman Tuhan.

Hal ini semakin menyulitkan pemberitaan Injil bagi umat manusia. Kekristenan sudah sejak lama diserang oleh pengajaran-pengajaran liberal dan ateisme, kini ditambah lagi dengan gejala ketidakmelekan Alkitab dan malasnya orang-orang Kristen untuk mempelajari secara mendalam kekristenan. Tidak sampai di situ, perkembangan agama Islam yang meningkat drastis dan hidupnya kembali agama-agama ketimuran dalam jubah agama zaman baru (new age) semakin melimbungkan kekristenan. Eropa dan Amerika Serikat yang dulu dikenal sebagai markas kekristenan, saat ini harus ditinjau ulang lagi. Saat ini lebih mudah untuk memberitakan tentang Islam dan agama-agama ketimuran di dua benua tersebut ketimbang memberitakan Injil.

“...kebanyakan orang Kristen tidak memahami apa yang mereka percayai, mengapa mereka mempercayainya, dan mengapa hal itu penting. Bagaimana mungkin kekristenan yang tidak dipahami dapat dipraktikan?” ~ The Faith, Charles Colson.

Sekali lagi pernyataan (alm) Colson menohok apa yang kita yakini selama ini. Kita merasa bahwa kita sudah memahami kekristenan. Tapi kalau mau jujur, tingkat pengetahuan kita akan kekristenan hanyalah sampai pada tingkat kulit semata. Banyak orang-orang Kristen adalah berasal dari Kristen tradisi, hanya karena orang tua mereka adalah orang Kristen. Atau sebatas pada Kristen emosionalisme, hanya berdasar pada perasaan tertentu. Kenapa saya berani berkata seperti itu? Karena saya telah mengalami hal-hal seperti itu dalam kehidupan saya, hidup dalam pasir kekristenan palsu.

Saya cukup banyak melihat orang-orang Kristen yang tidak memiliki wawasan yang benar tentang teologi. Kita telah bertumbuh dalam suatu keyakinan bahwa budaya dan tradisi adalah penentu dan pembentuk diri kita. Kita lebih tahan dan bahkan menyukai untuk duduk lama menyaksikan pagelaran mode, pertandingan olahraga, pagelaran musik dan lain-lain ketimbang duduk tenang mendengarkan khotbah atau mempelajari Alkitab. Kita hidup dalam kekristenan tampilan luar, terlihat relijius di luar tapi di dalamnya keropos.

Iman kita bukanlah sekedar pengalaman mistis, kondisi pikiran tertentu atau suatu konsep pada selembar kertas kosong. Teologi, doktrin dan ortodoksi itu penting karena Tuhan itu riil, dan Ia telah bertindak di dalam dunia kita, dan tindakan-tindakanNya itu mempunyai makna pada hari ini, juga bagi segala masa.” ~ Joshua Harris, pendeta dan penulis buku Dug, Down, Deep.

Bagi banyak orang kata-kata seperti teologi, doktrin dan ortodoksi mungkin sangat asing atau terasa sangat membosankan. Kebanyakan mungkin akan mengkaitkannya dengan para Bapa Gereja Mula-mula atau kepada suatu perdebatan yang alot dan bahkan keras. Saya juga pernah berpikir demikian. Saya menganggap bahwa lebih baik saya mengaplikasikan firman Tuhan dalam kehidupan. Buat apa cape-cape mempelajari teologi, doktrin atau ortodoksi kalau itu cuma hanya jadi pengetahuan belaka. Pandangan ini hanya setengah kebenarannya. Memang benar bahwa Tuhan lebih suka kita menaati firmanNya dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi pertanyaannya adalah apakah kita sudah benar dalam menaati firman Tuhan tersebut. Disinilah teologi, doktrin dan ortodoksi berbicara lebih banyak. Agar kita tidak tergelincir dalam pemahaman yang salah tentang firman Tuhan maka sangatlah penting untuk mempelajari teologi, doktrin dan ortodoksi.

Di dalam tulisan ini saya ingin berbagi bahwa mempelajari teologi, doktrin dan ortodoksi bukan hanya menjadi tugas pendeta dan penginjil, tetapi bagi orang-orang yang rindu memandang Tuhan yang lebih besar dan lebih mulia dari yang dapat dibayangkan pikiran manusia. Saya sedikit demi sedikit sudah mengusahakan setiap harinya untuk mempelajari Alkitab, membaca buku-buku teologis untuk membantu pemahaman saya tentang Firman Tuhan. Hasilnya adalah bahwa apa yang saya anggap dulu adalah suatu yang tidak bermanfaat ternyata sangat mengubah kehidupan saya di dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, mempelajari teologi, doktrin dan ortodoksi membuat kita dapat berbuat lebih jauh, yaitu membela keyakinan iman Kristen di hadapan para penyerangnya, yakni Ateisme, liberalisme, dan agama-agama lainnya.

Selamat berteologi!

Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis.... Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul...” 
~ Kisah Para Rasul 2:41, 42.

Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini. Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah..... Sementara itu sampai aku datang bertekunlah dalam membaca kitab-kitab suci, dalam membangun dan dalam mengajar... Awasilah dirimu sendiri dan awasilah pengajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” 
~ 1 Timotius 4:6, 13 dan 16.

Minggu, 22 April 2012

R.I.P : Charles "Chuck" Colson


(gambar diambil dari situs http://chuckcolson.org/)


Charles “Chuck” Colson, salah seorang pemimpin dunia penginjilan Kristen, meninggal hari Sabtu sore, 21 April 2012. Chuck Colson berumur 80 tahun.

Dunia penginjilan Kristen kehilangan salah satu suara yang paling fasih dan berpengaruh sampai saat ini dengan kematian Charles W. “Chuck” Colson. Pendiri The Prison Fellowship dan Colson Center for Christian Worldwide meninggal hari sabtu sore akibat komplikasi menyusul pendarahan otak yang dialaminya.” Demikian pernyataan yang dirilis The Prison Fellowship.

Colson menderita pendarahan intracerebral, yang mengakibatkan dirinya menjalani operasi dua minggu yang lalu untuk menyingkirkan gumpalan darah beku di otaknya. Awalnya, kondisi semakin membaik dan dia dapat berbicara dengan istri dan anak-anaknya. Tapi pada Selasa malam, kondisi Colson memburuk dan dokter menyarankan agar seluruh keluarga Colson berkumpul di samping tempat tidurnya di rumah sakit, berjaga-jaga apabila Colson meninggal.

Pertobatan dramatis dan Warisannya.

Selama hidupnya, Colson dikenal sebagai salah satu pemimpin Penginjilan Kristen, komentator budaya, penulis lebih dari 30 buku dan pendiri organisasi penginjilan di penjara, The Prison Fellowship. Tetapi  juga Colson pernah ditakuti dan dijuluki“Hatchet man”-nya mantan Presiden Richard Nixon atau kata David Plotz, penulis di majalah Slate adalah “evil genius”.

Pada tahun 1973, nama Colson menjadi terkenal karena dirinya dianggap terlibat dalam kasus paling memalukan dalam sejarah politik Amerika Serikat, yaitu Watergate. Skandal ini memaksa Presiden saat itu, Richard Nixon harus mengundurkan diri. Sementara Colson sedang menghadapi penangkapan pihak berwajib atas keterlibatannya dalam skandal Watergate, seorang teman dekatnya memberi salinan karya klasik apologetika Kristen, Mere Christianity, karya filsuf Kristen Inggris, C.S.Lewis.



(gambar diambil dari : http://chuckcolson.org/)


Buku ini ternyata membawa dampak luar biasa bagi Colson. Ia bertobat dan kembali kepada iman Kristennya. Tidak sampai di situ, tatkala sedang menghadapi sidang atas dirinya, Colson mengumumkan secara nasional pertobatannya kepada Yesus Kristus dan menjadi berita sensasional saat itu. Colson mengaku bersalah dalam skandal Watergate dan harus menjalani hukuman di Maxwell Federal Prison Camp di Alabama pada tahun 1974. Dua tahun kemudian, Colson menerbitkan memoarnya yang berjudul Born Again dan menjadi best seller. Tahun 1978, riwayat hidupnya dalam Born Again difilm-kan dengan judul yang sama.

Sejak pertobatannya, Colson telah mendedikasikan hidupnya untuk membantu narapidana mengalami transformasi radikal dalam Kristus melalui organisasi nirlaba, The Prison Fellowship. Selama lebih dari 30 tahun, Colson terus menjaga tradisi melayani tahanan di banyak penjara di AS setiap hari Paskah. Tahun ini ternyata menjadi tahun pertama kali sekaligus yang terakhir bagi Colson tidak dapat menghabiskan waktu di hari minggu Paskah di penjara melayani narapidana.

Segala hal baik yang telah saya lakukan ialah karena Tuhan yang dapat menjangkau lebih dalam dari (skandal) Watergate dan menobatkan orang berdosa,” kata Colson dalam pernyataannya di tahun 2008 sebagi respon atas anugerah Presidential Citizens Medal. “Segala sesuatu yang telah berhasil dicapai selama 35 tahun terakhir adalah karena kasih karunia Tuhan dan rancanganNya yang berdaulat.”

Presiden George W. Bush pada tahun 2008, memberikan anugerah The Presidential Citizens Medal, penghargaan tertinggi kedua untuk warga sipil, kepada Colson atas usahanya menjangkau narapidana, mantan narapidana, korban kejahatan dan keluarganya. Anehnya, penghargaan ini diciptakan oleh Presiden Nixon, di mana dulu Colson pernah menjadi salah satu staf khususnya, sebagai pengakuan bagi warga negara “ yang telah melakukan perbuatan yang patut dicontoh atas usaha pelayanan bagi negara dan sesama warga negara”.

“Melalui keyakinan imannya (Colson) yang kuat dan kepemimpinannya, ia telah membantu para pria dan wanita pemberni dari seluruh dunia yang telah melakukan transisi yang berhasil kembali ke masyarakat,” demikian pernyataan Gedung Putih. “ Amerika Serikat menghormati Chuck Colson untuk kebaikan hatinya dan upaya kerasnya untuk memperbaharui semangat hidup dari banyak orang yang tak terhitung jumlahnya.”

Buku terakhirnya, The Faith, adalah seruan kuat dari dirinya bagi gereja-gereja untuk merangkul kembali kebenaran yang mendasar dari ajaran Kristen.

The Prison Fellowship saat ini memiliki 1300 program di beberapa Lembaga Pemasyarakatan di seluruh 50 negara bagian di AS. Para mitra pelayanannya mencakup 7.700 gereja dan memiliki sekitar 14.000 relawan nasional. Secara umum, program-program di Fellowship Prison telah menjangkau para tahanan dan keluarganya di 110 negara.

Selamat jalan Colson, rasul bagi para narapidana. Nikmatilah hari-hari indahmu selamanya di kerajaan Bapa Surgawi bersama-sama dengan Sang Junjungan Agung, Yesus Kristus.

"Remain at your posts and do your duty - for the glory of God and his kingdom"
Chuck Colson (16 Oktober 1931 - 21 April 2012)


Rekomendasi buku karya Chuck Colson :

1. LOVING GOD (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pionir Jaya)

2. THE FAITH (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Pionir Jaya)


Lebih jauh mengenai Chuck Colson :

Minggu, 15 April 2012

APOLOGETIKA BAGI KEMULIAAN TUHAN


Sudah lama saya ingin menuliskan tentang Apologetika. Tetapi karena satu dan lain hal baru saat ini saya bisa menuliskan topik mengenai Apologetika. Ada banyak alasan yang mendorong saya untuk menuliskan topik ini, di antaranya :

1.      Alasan alkitabiah.
Di dalam Alkitab banyak kisah mengenai bagaimana hamba-hamba Tuhan melakukan pembelaan terhadap kebenaran firman Tuhan. Nabi Elia berapologetika menentang kekuasaan yang bobrok dari raja Ahab dan ratu Izebel. Di dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah heroik mengenai pembelaan terhadap firman Tuhan sering diceritakan. Para murid Yesus, Stefanus, Filipus, Paulus dan Barnabas, Apolos melakukan Apologetika, membela Injil di hadapan orang-orang. Bahkan Junjungan Agung kita, Yesus Kristus pun melakukan Apologetika pada saat Ia dicobai di padang gurun oleh iblis.

2.      Alasan teologis.
Saya merasakan saat ini serangan terhadap doktrin-doktrin Kekristenan mengalami ekskalasi yang sangat kuat. Doktrin yang paling sering diserang adalah mengenai Ketuhanan Yesus, keberadaan dosa dan reabilitas Alkitab. Tragisnya, serangan-serangan terhadap doktrin-doktrin Kekristenan tidak hanya dilakukan oleh para apologis dari agama-agama lain. Tetapi juga dilakukan oleh kalangan Kristen sendiri. Banyak pendeta yang mulai mengajarkan doktrin yang berlawanan dengan ortodoksi. Mereka terpengaruh dengan ajaran-ajaran Liberal kekristenan. Sebut saja Pendeta Anglikan Inggris, John Shelby Spong. Ia menentang semua hal yang terkait dengan doktrin-doktrin Kristen. Ia tidak meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan, ia menentang konsep keberadaan dosa manusia dalam Kristen, dan ia menentang reabilitas Alkitab.

3.      Alasan trend saat ini.
Saya akan mengutip tulisan dari apologis Kristen kenamaan Kristen saat ini, Ravi Zacharias, dalam bukunya yang berjudul Jesus Among Other Gods. Tulisan Dr. Ravi saya anggap tepat menggambarkan trend dunia saat ini tentang Kekristenan. Inilah kutipan dari tulisan dari Dr. Ravi, “Kita sedang hidup dalam suatu zaman di mana sensitivitas dapat meledak setiap saat dengan kata-kata yang menusuk. Secara filosofis, anda dapat mempercayai apa saja, selama anda tidak mengklaimnya sebagai kebenaran. Secara moral, anda dapat mempraktekkan apa saja, selama anda tidak mengklaimnya sebagai cara yang “lebih baik”. Secara religius, anda dapat menyakini apa saja, selama anda tidak melibatkan Kristus di dalamnya. Jika sebuah gagasan spiritual berasal dari timur, kekebalan kritis diberikan. Tetapi seorang jurnalis dapat memasuki sebuah gereja dan mengolok-olok segala pengajaran yang ada di dalamnya. Perlakuan berbeda diberikan kalau berhubungan dengan spiritualitas ketimuran, mereka tidak akan mengolok-olok gagasan spiritualitas tersebut. Inilah mood di akhir abad kedua puluh.”

Apologis Kristen lainnya, Charles “Chuck” Colson, menambahkan dalam bukunya yang berjudul The Faith, “Kita hidup di zaman ketika kaum Kristen serta peradaban yang dibangun dengan bantuannya sedang diserbu. Meninjau liputan pers selama beberapa tahun terakhir menjelaskan bahwa Kekristenan terhuyung-huyung akibat hantaman dan serbuan yang mungkin belum pernah dialaminya dari ateisme negatif... Kami telah memasuki era pasca-modern yang menolak ide tentang kebenaran. Kalau kebenaran tidak ada, maka klaim kekristenan bersifat menusuk hati dan bahkan fanatik terhadap orang lain. Toleransi secara keliru didefinisikan sebagai menaruh semua dalil di atas pijakan yang setara. Jutaan orang menyetujui (dan banyak orang kristen juga berada di dalam jutaan orang tersebut –penulis) doktrin semua-kepercayaan-sama-saja demi memperoleh kedudukan sosial yang lebih baik dalam budaya kami yang bebas nilai dan tidak boleh menyinggung siapa pun.”

Kedua kutipan tulisan dari dua apologis Kristen tersebut di atas memang menggambarkan situasi yang terjadi di dunia barat, Eropa dan Amerika Serikat. Tetapi saya menyadari bahwa trend tersebut sekarang sedang menjangkiti Indonesia. Atas nama kedamaian dan toleransi yang keliru, orang-orang Kristen diam saja ketika penganut agama lain menyerang doktrin-doktrin kekristenan.


Tetapi bukankah Firman Tuhan tidak perlu dibela karena Tuhan sendiri yang akan membela firmanNya?

Ya, benar bahwa Tuhan akan melaksanakan sendiri apa yang sudah difirmankanNya. Tetapi sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh Yesus Kristus, kita mempunyai tanggung jawab untuk juga mewujudkan firman Tuhan itu dalam kehidupan. Saya menganalogikannya sebagai berikut. Pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah produk undang-undang dan setelah melalui berbagai proses legislasi di parlemen dan disetujui, maka UU itu berlaku bagi seluruh komponen bangsa Indonesia tanpa terkecuali. Artinya, rakyat Indonesia harus taat dan melaksanakan undang-undang tersebut. Elohim Bapa sudah menyampaikan kabar baik (Injil) melalui Yesus Kristus kepada manusia, maka bagi umat yang mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Mesias, merupakan suatu tanggung jawab untuk melaksanakan kehendak Tuhan dan mengabarkannya kepada orang lain, termasuk melakukan pembelaan apabila ada serangan terhadap firman Tuhan.

Saya akan mencoba secara singkat menjelaskan apa itu Apologetika. Memang tidak mudah (karena saya pun sesungguhnya baru mempelajari hal ini), tetapi kerinduan saya untuk memuliakan Tuhan dan melihat bahwa banyak orang-orang Kristen yang awam mengenai hal ini mendorong saya untuk menuliskan tema ini. Untuk pemilihan judul dari artikel ini saya menggunakan judul yang sama dengan buku karya John M. Frame, Apologetics to the Glory of God : An Introduction (Apologetika bagi Kemuliaan Allah : Sebuah Pengantar, Penerbit Momentum-Surabaya, 2009). Tetapi dalam artikel saya memakai kata “Tuhan”. Tidak hanya itu, seluruh materi yang ada dalam artikel ini saya landaskan pada pemikiran John M. Frame dalam bukunya tersebut. Tuhan Yesus lah yang memampukan saya untuk menuliskan tema ini, jadi segala hormat, kemuliaan dan puji-pujian saya letakkan di bawah kakiNya.


Banyak orang Kristen yang masih asing dengan kata “Apologetika”. Orang Kristen lebih akrab dengan kata “Penginjilan”. Padahal sesungguhnya ada keterkaitan antara Apologetika dengan Penginjilan. Apologetika adalah bagian dari Penginjilan dan di dalam Penginjilan terdapat Apologetika.

Apakah apologetika itu? Pentingkah mempelajari apologetika?

Definisi Apologetika

Apologetika berasal dari kata Yunani, Apologia. John M. Frame mendefinisikan sebagai ilmu yang mengajar orang Kristen bagaimana memberi pertanggungan jawab tentang pengharapannya (Apologetika bagi Kemuliaan Allah : Sebuah Pengantar, Momentum-Surabaya, 2009). Dalam bukunya yang lain, Frame mendefinisikan Apologetika sebagai aplikasi Alkitab kepada mereka yang tidak percaya (The Doctrine of The Knowledge of God). Pendeta Budi Asali dalam artikelnya yang berjudul “Apologetics” mendefinisikan Apologetika sebagai ilmu yang mempelajari cara-cara pembelaan iman Kristen terhadap serangan-serangan dari luar.

Ada kesalahpahaman dalam pemikiran mengenai Apologetika. Apologetika dianggap sebagai permintaan maaf atas sesuatu hal yang salah yang kita percaya dan ajarkan. Hal ini terkait dengan perkataan “permohonan maaf” dalam bahasa Inggris, yaitu “Apology” yang memang berasal dari kata Apologia. Jadi Apologetika bukan permohonan maaf tetapi adalah pembelaan atas sesuatu yang benar yang kita percaya dan ajarkan.

Biasanya yang menjadi dasar bagi Apologetika adalah 1 Petrus 3:15-16. Di dalam ayat tersebut Rasul Petrus menasihati : “tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka.”

Pertanggungan jawab dalam ayat di atas adalah dari kata Yunani, Apologia.

Aspek – aspek dalam Apologetika

John M. Frame membedakan 3 aspek dari Apologetika, yaitu :

1.  Apologetika sebagai pembuktian : menyampaikan sebuah dasar rasional bagi iman kepercayaan atau membuktikan kebenaran Kekristenan (Yohanes 14:11; 20:24-31; 1 Korintus 15:1-11). Apologetika adalah menghadapi ketidakpercayaan dalam diri orang percaya sebagaimana dalam diri orang yang tidak percaya.

2.   Apologetika sebagai pembelaan : menjawab keberatan-keberatan dari ketidakpercayaan. Tulisan-tulisan Rasul Paulus termasuk dalam kategori ini. Tuhan Yesus pun sering menangani keberatan-keberatan ini dari para pemimpin agama Yahudi dalam Injil Yohanes.

3.   Apologetika sebagai penyerangan : menyerang kebodohan dari pikiran yang tidak percaya. Tuhan tidak hanya memanggil umatNya untuk menjawab keberatan-keberatan dari mereka yang tidak percaya, tetapi juga melanjutkannya dengan serangan terhadap kepalsuan. Rasul Paulus dengan tepat menggambarkan situasi ini : “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Elohim...” (2 Korintus 10:5).

Apabila dilakukan dengan benar maka berapologetika akan mencakup dari ketiga aspek seperti yang tersebut di atas.


Apa hubungan Apologetika dengan Penginjilan?

Apologetika dan Penginjilan adalah satu kesatuan. Keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu menarik orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus. Walaupun begitu kedua hal tersebut mempunyai perspektif dan penekanan yang berbeda. Penginjilan menekankan usaha dari perubahan Ilahi dalam kehidupan manusia, sedangkan apologetika menekankan aspek rasional dari keyakinan. Pendeta Budi Asali menyingkatnya dengan kalimat “pertanggungan jawab itu harus Alkitabiah dan logis”.


Apakah seluruh orang Kristen harus menjadi Apologis?

Saya sudah menganalogikan hal ini dalam paragraf-paragraf sebelumnya. Bahwa saya sebagai warga negara Indonesia wajib menaati dan melaksanakan segala bentuk aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang telah disetujui oleh parlemen. Hal yang sama juga harus dilakukan oleh orang-orang Kristen. Mereka harus menaati dan melaksanakan segala bentuk perintah yang sudah Elohim Bapa berikan melalui Yesus Kristus, dalam hal ini termasuk melakukan pemberitaan dan pembelaan Injil Tuhan. Amanat Agung dari Tuhan Yesus menegaskan hal tersebut, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20)


Apa yang menjadi tujuan dari Apologetika?

John M. Frame menuliskan, “Bagi orang percaya, apologetika memberi pemulihan keyakinan pada iman seperti apologetika menunjukkan dasar pemikiran dari Alkitab sendiri. Dasar pemikiran itu memberi orang percaya sebuah pondasi intelektual, sebuah dasar bagi iman dan bagi pengambilan keputusan yang bijaksana dalam kehidupan. Bagi orang yang tidak percaya, Tuhan dapat memakai pemikiran apologetika untuk menyingkirkan rasionalisasi, argumentasi-argumentasi yang melaluinya permasalahan menghalangi perubahan.”

Memang hanya Tuhan yang dapat mengubah hati seseorang melalui karya Roh Kudus. Tetapi secara normal, Roh Kudus bekerja melalui firman. Roh Kudus penting, tetapi pemberita Injil dan Apologis pun penting. Tugas dari Pemberita Injil dan Apologis lah yang menyampaikan firman. Dan itu adalah tugas dari semua orang Kristen yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus di kayu salib.

Yudas 1:3 

Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.

Selesai


Buku-buku terkait :

1. Apologetika bagi Kemuliaan Allah : Sebuah Pengantar, John M. Frame, Momentum-Surabaya, 2009;

2. Jesus Among Other Gods, Ravi Zacharias, Pionir Jaya, November 2009;

3. The Faith, Charles Colson, Pionir Jaya