Tampilkan postingan dengan label Salib Kristus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salib Kristus. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2012

KEMATIAN YESUS KRISTUS ADALAH INTI DARI INJIL (Bagian Ketiga)


Mengapa kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri? Tidak cukup kah perbuatan baik dan amal saja?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mewakili pertanyaan yang diajukan orang-orang yang menolak berita Injil.

Jawabnya adalah pesan kematian Yesus di kayu salib menusuk inti dosa manusia, yaitu kesombongan. Wow, inti dosa manusia adalah kesombongan? Ya dan saya akan menunjukkannya.

Kita kembali pada kitab Kejadian pasal 3, di mana ular sedang melancarkan rayuan mautnya terhadap si perempuan. Dalam ayat 4, si perempuan berkata bahwa kalau memakan buah tentang pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, maka akan mati. Ayat 5 ular membantah pernyataan si perempuan. Ular berkata bahwa “sekali-kali kamu tidak akan mati...” tetapi “...kamu akan menjadi seperti Elohim..”

Si perempuan termakan bujuk rayu ular. Ayat yang ke-6 menyatakan “perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.”

Saya menekankan pada kata-kata “pohon itu menarik hati karena memberi pengertian

Si perempuan dengan sadar (“menarik hati”) memilih untuk melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah tersebut. Ia memilih untuk keluar dari pemeliharaan Tuhan dan mengambil jalannya sendiri (“kamu akan menjadi seperti Elohim”; “...karena memberi pengertian...”).

Hal pertama yang mereka lakukan setelah melakukan pelanggaran adalah “menyemat daun ara dan membuat cawat”. Inilah hasil dari “buah pengertian” yang mereka makan. Mereka mencoba untuk menyelamatkan diri mereka dengan mengusahakannya sendiri. Bukankah hal ini sangat mirip dengan sikap yang ditunjukkan dengan orang-orang yang menolak berita Injil di setiap abad dan tempat? Bahwa mereka sanggup menyelamatkan diri mereka sendiri. Menganggap bahwa diri mereka bisa menggantikan Tuhan dan menjadi pemimpin atas diri mereka sendiri. Inilah kesombongan yang mula-mula hinggap di dalam benak malaikat-malaikat yang jatuh. Intinya tetap sama tetapi menggunakan kemasan yang berbeda. (Baca buku C.S. Lewis yang berjudul Mere Christianity untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap dari dosa kesombongan)

Jadi pemikiran mengenai bahwa manusia bisa menyelamatkan dirinya sendiri melalui perbuatan baik atau amal atau apapun bentuknya itu hanyalah untuk “menenangkan mereka dan untuk sementara waktu membantu menenangkan kegelisahan dan kekosongan di dalam diri karena mereka terpisah dari Penciptanya” (Supremasi Kristus, Ajith Fernando, Penerbit Momentum).

 “Tuhan akan mengampuni saya karena itu adalah tugasNya!” protes Heinrich Heine, kritikus kristen kenamaan.

Bagi manusia pengampunan itu memang hanya sebuah tugas sederhana, tetapi bagi Tuhan itu adalah masalah yang sangat besar (Carnegie Simpson, The Fact of Christ, 1900).

Mengapa pengampunan bagi Tuhan adalah masalah yang besar?

John Stott menjawab pertanyaan ini dengan sebuah pertanyaan dilematis.

Jadi bagaimana Tuhan menghukum dosa manusia (sebagaimana Ia adalah adil) tanpa bertentangan dengan kasihNya? Atau bagaimana Tuhan mengampuni dosa manusia (sebagaimana Ia adalah adil) tanpa berkompromi dengan keadilanNya? Bagaimana Ia harus menghadapi manusia yang jahat, namun Ia tetap menjadi Tuhan yang sejati dan penuh kasih yang suci? Bagaimana Ia dapat bertindak sekaligus menunjukkan kekudusan dan kasihNya?

Inilah masalah besar yang dihadapi Tuhan ketika berurusan dengan manusia.

Satu-satunya jalan yang dilakukan Tuhan untuk menunjukkan keadilan dan kasihNya adalah mengutus Putra TunggalNya ke dalam dunia (Yohanes 3:16) untuk mati di kayu salib.


Mengapa Yesus mati menggantikan kita? Bukankah kita harus menanggung dosa-dosa kita sendiri?

Sobat, hal pertama yang dilakukan oleh Adam dan Hawa setelah kejatuhan adalah menyemat daun ara dan membuat cawat (ini adalah perlambang segala usaha dan kerja manusia untuk dibenarkan di hadapan Tuhan). Tetapi apakah usaha itu berhasil? Tidak. Adam dan Hawa bersembunyi di balik pohon-pohon dalam taman ketika tahu bahwa Tuhan datang. Usaha yang mereka lakukan tidak berhasil, rasa bersalah tetap ada dalam nurani mereka.

Alkitab menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Elohim” (Roma 3:23) dan “...segala kecenderungan hatinya (manusia) selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kejadian 6:5). Di hadapan Tuhan segala “..... kesalehanku seperti kain kotor” (Yesaya 64:6). Jadi tidak mungkin perbuatan baik atau usaha-usaha relijius dapat menggapai Tuhan. Memang Tuhan adalah Kasih, tetapi kasihNya bukanlah kasih yang sentimentil. KasihNya adalah kasih yang Kudus.

Tuhan lah yang akhirnya berisinisiatif menolong mereka (Adam dan Hawa). “dan TUHAN Elohim membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya pada mereka” - Kejadian 3:21. Hanya Tuhan lah yang sanggup menolong manusia dari maut.

Di kayu salib lah kematian Yesus mempertemukan keadilan (hukuman manusia ditanggungkan kepada Yesus) dan kasih Elohim (Elohim mengurbankan AnakNya yang tunggal bagi keselamatan manusia). Kematian Yesus menggenapi nubuatan pemazmur dalam Perjanjian Lama : "Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman." - Mazmur 85:11

Inilah berita utama Injil yang telah disampaikan oleh Elohim dari permulaan masa (Kejadian 3:21) melalui para nabi, Yesus Kristus yang adalah Sang Putra Elohim, para rasul dan orang-orang kudus lainnya di seluruh abad dan tempat.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Selesai

*NYOK


Buku-buku yang direkomendasikan untuk dibaca mengenai topik ini :
  1. Why I am A Christian, John Stott. Sudah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Pionir Jaya;
  2. Supremasi Kristus, Ajith Fernando Sudah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Momentum;
  3. Jeritan dari Salib, Erwin Lutzer Sudah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Gospel Press;
  4. Mere Christianity (Kekristenan Asali), C.S. Lewis Sudah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Pionir Jaya;
  5. This We Believe, pada bab 2 yang berjudul "Melakukannya dengan caraku : "Apakah Aku dilahirkan untuk memberontak?" oleh J.I. Packer; dan bab 4 yang berjudul "Apakah Aku tidak cukup baik? Mengapa Yesus harus mati karena dosa-dosaku?" oleh Scott Hafemann

Minggu, 08 April 2012

KEMATIAN YESUS KRISTUS ADALAH INTI DARI INJIL (Bagian Kedua)


Kita akan membahas yang pertama.

Konsep Kekudusan saat ini dipandang sebagai hal yang ketinggalan jaman. Banyak orang mencela kata yang muncul lebih dari 600 kali dalam Alkitab. Konsep Kekudusan juga ternyata telah “disempitkan” maknanya hanya pada berfokus pada serangkaian aturan atau larangan yang sifatnya legalistik, misalnya : mengenai rokok, minuman keras, keperawanan, dll. Daftar tersebut akan semakin panjang tergantung dari komunitas-komunitas yang menjalankannya. Yang lain menganggap bahwa Kekudusan itu adalah sesuatu yang sempurna, sehingga manusia tidak mungkin menggapainya. Bagi manusia, konsep ini menjadi begitu mengecilkan hati apabila dikaitkan dengan dosa. Semua pandangan-pandangan ini menyalahartikan konsep Kudus yang sesungguhnya.

Kudus artinya adalah sifat moral yang murni. Terpisah dari dosa dan karenanya terpusat pada Tuhan (Pursuit of Holiness, Jerry Bridges, Terjemahan Indonesia, Pionir Jaya, Februari 2010). Para penulis Perjanjian Baru menjelaskan dengan gamblang Kekudusan tersebut dalam suatu perbedaan. Mereka membedakannya dengan sikap yang menuruti keinginan-keinginan jahat (1 Petrus 1:14-16). Membedakan yang kudus dengan perbuatan kejahatan dan kecemaran (Wahyu 22:11).

Sekarang kita maju dalam pembahasan mengenai Kekudusan Tuhan.

Buku klasik Jerry Bridges yang berjudul Pursuit of Holiness (sudah diterbitkan oleh Penerbit Pionir Jaya, Februari 2010) menggambarkan dengan begitu lugas mengenai kekudusan Tuhan. Saya akan menggunakan referensi dari buku tersebut untuk menggambarkan kekudusan Tuhan.

Jerry Bridges menuliskan, “...kekudusan menggambarkan kemuliaan Tuhan dan juga kemurnian serta kesempurnaan moral yang dimilikiNya. Kudus adalah salah satu atribut-atribut yang disandangnya, oleh karena itu, kekudusan adalah salah satu bagian yang sangat pokok dari keberadaan Tuhan. Kekudusan tidak dapat dipisahkan dari keberadaannya... Kekudusan Tuhan sepenuhnya terlepas dari segala yang jahat... Elohim adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1 Yohanes 1:5). Yohanes menyatakan bahwa Tuhan secara mutlak bebas dari kejahatan dan oleh karenanya, Ia adalah intisari dari kesempurnaan dan kemurnian moral.... Kekudusan Tuhan jua mencakup kesesuaianNya yang sempurna dengan watak ilahiNya. Sebab itu, segala pikiran dan tindakannya selalu sejalan dengan watakNya yang kudus."

Dalam Wahyu 4:8, keempat makhluk yang berada di sekeliling tahta Elohim tidak henti-hentinya berkata, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Elohim, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang akan datang.” Dalam Yesaya 6:3, para serafim dalam penglihatan akan kemuliaan Tuhan yang dinyatakan kepada Yesaya pun mengekspresikan kekudusan Tuhan sebanyak tiga kali. Musa pun menyatakan kekudusan Tuhan, “.... siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusanMu...” (Keluaran 15:11).

Kekudusan adalah mahkota Tuhan. Kekudusannya adalah penyempurnaan dari semua sifat-sifatNya yang lain : Kuasanya adalah kuasa yang kudus, belas kasihNya adalah belas kasih yang kudus, kebijaksanaanNya adalah kebijaksanaan yang kudus. Kekudusannya membuat Ia layak kita puji.

Kalau kita sudah memahami betapa sakralnya Kekudusan Tuhan, maka kita baru bisa menyadari kebobrokan kita di hadapan Tuhan akibat dosa. Hal ini mengantarkan kita kepada pembahasan mengenai betapa seriusnya dampak dosa terhadap kehidupan kita dengan Tuhan.

Kejadian 1:26-27 menggambarkan proses penciptaan manusia. Hal yang luar biasa adalah bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan. Karena keistimewaannya, manusia didaulat menjadi penguasa atas seluruh dunia ciptaan Tuhan. Dan.... “Elohim melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik...” Kejadian 1:31.

Tetapi masalah besar kemudian timbul. Didorong oleh bujuk rayu ular (iblis), perempuan yang diciptakan Tuhan dari tulang rusuk manusia, memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Tidak sampai di situ, si perempuan tersebut memberikannya kepada manusia dan manusia itu memakannya (Kejadian 3). Ayat 7 pada pasal yang sama lalu menggambarkan situasi manusia setelah memakan buah itu, “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.”

Apa yang salah dari peristiwa di atas?

Pada Kejadian 2 ayat 17, Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk... “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Apa yang sudah dilakukan manusia dan perempuan adalah jelas. Mereka melanggar perintah Tuhan. Inilah pemberontakan pertama manusia terhadap kekuasaan Tuhan dan akan dilanjutkan oleh keturunan-keturunan manusia selanjutnya. Inilah konsep dosa asal dalam kekristenan yang banyak ditentang orang-orang.

Alkitab mencatat banyak pemberontakan yang dilakukan manusia terhadap kekuasaan Tuhan. Pemberontakan yang tidak hanya dilakukan oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, tetapi juga oleh bangsa pilihanNya, Israel. Harap jangan membayangkan bahwa pemberontakan tersebut adalah mengangkat senjata dan memerangi Tuhan secara literal. Yang saya maksud pemberontakan di sini adalah setiap tindakan manusia yang tidak selaras dengan kekudusan Tuhan.

Kemudian mengapa hanya karena satu perbuatan dosa yang dilakukan manusia pertama maka hal ini membawa penghukuman kepada seluruh umat manusia keturunan manusia pertama? Bukankah hal ini merupakan ketidakadilan nurani dari Tuhan?

Saya akan menjelaskannya dalam dua sudut pandang, secara konsep dunia dan konsep alkitab.

Untuk yang pertama saya menganalogikannya seperti ini. Ketika pemimpin suatu bangsa menyatakan perang terhadap bangsa lain, ia tidak hanya mendeklarasikannya bukan atas nama pribadinya. Ia mendeklarasikannya atas nama bangsanya, artinya seluruh komponen bangsa ikut turut di dalamnya, rakyat dari bangsa tersebut pastilah termasuk di dalamnya. Kekalahan atau kemenangan bangsa tersebut akan menentukan status dari bangsa tersebut. Apabila kalah, maka bukan hanya pemimpin saja yang kalah tapi seluruh komponen yang ada di dalam bangsa tersebut. Rakyat dari bangsa tersebut juga menyandang status kekalahan.

Lantas apa hubungan analogi di atas dengan kesalahan manusia pertama maka seluruh umat manusia juga turut mengalami penghukuman?

Hal ini akan membawa kita kepada pembahasan yang alkitabiah.

Jawabnya ada dalam Kejadian 5:3 = “Setelah Adam hidup sekitar seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan  seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya...”. Perhatikan kalimat “...menurut rupa dan gambarnya”. Adam diciptakan menurut rupa dan gambar Tuhan, tetapi setelah kejatuhan dalam dosa, keturunan Adam diperanakkan menurut rupa dan gambar Adam. Implikasinya, karena Adam berdosa, maka keturunannya berada dalam kuasa dosa.

Rasul Paulus yang menuliskan surat kepada jemaat di Roma menjelaskan dengan baik keadaan berdosa manusia seperti tersebut di atas.

Roma 5:12 “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”

Adilkah Tuhan  menghukum semua manusia hanya karena ketidaktaatan satu orang saja?

Warren Wiersbe menjawab dengan baik hal ini. Warren menyatakan bahwa tentu saja hal ini bukan saja adil, tetapi juga bijaksana dan penuh kemurahan. Jika Tuhan menguji tiap-tiap orang secara perseorangan , hasilnya akan tetap sama : ketidaktaatan! (Be Right, Warren Wiersbe, SP Publication, Inc, 1977).

Saya kira kita sudah bisa mendapatkan gambaran terang dari Kekudusan Tuhan dan keberdosaan manusia. Kekudusan Tuhan adalah bagian dari Tuhan yang tidak dapat dipisahkan. Kekudusan menyatakan kemurnian, oleh karenanya Tuhan tidak tercemar oleh kejahatan. Ia adalah intisari dari kesempurnaan moral. Manusia memang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Tuhan, tetapi akibat ketidaktaatannya, citra diri manusia rusak atau berdosa. Dampaknya sangat jelas, Tuhan tidak bisa bersatu dengan keadaan yang berdosa. Hubungan manusia dengan Tuhan rusak dan terputus. 

Pembahasan selanjutnya adalah : Apakah manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri?


*NYOK

Sabtu, 07 April 2012

KEMATIAN YESUS KRISTUS ADALAH INTI DARI INJIL (Bagian Pertama)


Di dalam kisah tentang para pemimpin spiritualitas besar terdapat beberapa kesamaan di akhir kehidupan para pemimpin tersebut. Para murid atau pengikut pemimpin-pemimpin spiritualitas akan meratapi kematian pemimpin mereka tersebut. Apabila para murid atau pengikut membukukan kisah hidup pemimpin mereka, fokusnya adalah pada teladan dan ajaran dari sang pemimpin. Jarang ada yang menceritakan dengan detail kematian sang pemimpin tersebut.

Hal yang bertolak belakang kita dapati pada para penulis Injil dan murid-murid Yesus. Mereka memberikan penekanan yang luar biasa kepada kematian Yesus. Di dalam bukunya yang berjudul Why I Am A Christian (diterjemahkan dan diterbitkan oleh Pionir Jaya, cet ke-4, Februari 2010), teolog John Stott menyatakan, “.... ketika Injil ditulis, keempat penulis Injil mencurahkan sebagian besar pasal untuk minggu terakhir kehidupan Yesus di dunia. Injil Lukas seperempatnya, Matius dan Markus sekitar sepertiganya, dan Yohanes sebanyak setengahnya.”

Para rasul pun tidak ketinggalan. Petrus menyatakan, ”Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati di terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh.” (1 Petrus 2:24)

Paulus menyatakan, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib(Filipi 2:8).

Yohanes menyatakan, “... yang telah mengutus anakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yohanes 4:10).

Tetapi apakah semua itu hanyalah argumen atau interpretasi para murid tentang misi Yesus di dunia? Tidak. Yesus sendiri berulang kali memberitahukan penderitaan dan kematianNya kepada para murid.

Matius 16:21 = “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem... lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

Markus 9:31 = “Yesus berkata kepada mereka : Anak Manusia akan diserahkan... dan mereka akan membunuh Dia...”

Lukas 18:33 = “dan mereka menyesah dan membunuh Dia...”


Pertanyaannya adalah mengapa Yesus mati?


Beberapa ahli menyatakan bahwa Yesus mati karena pengajaranNya sangat revolusioner sehingga mengganggu kepentingan pihak lain, dalam hal ini penguasa setempat. Ada yang menyatakan bahwa Yesus mati karena hasil konspirasi pemimpin-pemimpin agama Yahudi dengan otoritas Romawi. Singkat kata, Yesus mati sebagai martir atas sikap-sikapnya yang bertentangan dengan kepentingan penguasa.

Tetapi apakah hal itu benar? Tidak. Mereka mengabaikan fakta yang jelas tertulis dalam Alkitab. Yesus dengan sukarela mendatangi salibNya (baca = kematianNya). Yohanes 10:11 menyatakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Lebih lanjut dalam ayat ke - 17 dan 18, “... oleh karena Aku memberikan nyawaKu... Tidak seorang pun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri... dan berkuasa mengambilnya kembali.”


Pertanyaan lebih lanjut adalah mengapa Yesus dengan sukarela mendatangi kematianNya? Mengapa Ia menyerahkan nyawaNya untuk kita?


Untuk memenuhi tuntutan keadilan Elohim dan sekaligus menyatakan kasihNya kepada manusia.

Tetapi ada hal yang sangat bertolak belakang dari pernyataan di atas. Keadilan Tuhan menuntut penghukuman akan dosa-dosa manusia. Hal ini akan membuat Tuhan tidak berbelas kasih kepada umatNya. Padahal salah satu atribut kebesaran Tuhan adalah Kasih. Begitu juga kalau Tuhan mengampuni manusia yang berdosa tanpa ada penghukuman, kasihNya berarti adalah kasih yang murahan. Bahkan hukum dunia saja tidak akan melepaskan begitu saja orang yang melakukan pelanggaran hukum. Keadilan dan Kasih adalah atribut Elohim, artinya Ia tidak dapat berkontradiksi dengan atributnya tersebut. Elohim tidak bisa mengabaikan salah satu di antara keduanya. Keadilan dan Kasih akan selalu berjalan beriringan dalam setiap keputusan Tuhan.

Kematian Yesus di kayu salib-lah yang membuka dead-lock dari pernyataan di atas

Bagaimana hal itu dapat terjadi?

Sebelum kita sampai pada jawaban atas pertanyaan di atas, kita melihat dulu apa pandangan dunia tentang kematian Yesus.

Sepanjang segala abad, doktrin kematian Yesus mendapatkan pertentangan yang sangat keras dari banyak orang dan bahkan sistem agama tertentu. Heinrich Heine, kritikus kristen kenamaan, menyatakan dengan protes yang tegas bahwa : “Tuhan akan mengampuni saya karena itu adalah tugasNya!”

Hans Joachim Schoeps, penulis Yahudi, menolak berita salib Yesus : “Ini (berita Salib) merupakan suatu butir kepercayaan yang mustahil, yang mengurangi kedaulatan Tuhan dan keberadaanNya yang absolut...” (dikutip dalam Supremasi Kristus, Ajith Fernando, Pen. Momentum, cet ke-2, 2008. Artikel asli ada dalam The Jewish Christian Argument, Hans Joachim Schoeps, 1965).

Quran pun menolak kematian Yesus. Surah 4:156 (An Nisaa’) menyatakan : “dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa (Yesus) putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.”

Bahkan orang-orang dari kalangan Kristen sendiri pun menolak kematian Yesus. Rudolf Bultmann, menyatakan, “Bagaimana bisa kesalahan seseorang ditebus oleh kematian seorang lain yang tidak berdosa? Ini adalah suatu mitologi yang primitif....” (dikutip dalam buku Ajith Fernando, Supremasi Kristus, Pen. Momentum, cet ke-2, 2008. Artikel asli ada dalam “The New Testament and Mythology”)


Jadi apa jawaban kita terhadap berbagai pandangan tersebut?


Ada dua jawaban :

Pertama, kita tidak benar-benar mempertimbangkan Kekudusan Tuhan.

Kedua, kita tidak memperhitungkan betapa seriusnya dosa itu (“Why God Became Man”, Anselmus, Uskup Agung Canterbury abad ke-11)

Saya akan membahas kedua jawaban itu dalam artikel berikutnya....

*NYOK