Jawab : Apabila kita membaca empat kitab Injil dengan seksama maka para penulis Injil-injil tersebut menegaskan keilahian Yesus.
Saya akan mencoba
mengambil dari perspektif pengajaran dan perkataan Yesus sendiri. Dalam hal ini
saya berhutang banyak kepada tulisan Ajith Fernando, penginjil sekaligus
apologet Kristen berkebangsaan Srilanka, yang bersama-sama dengan istrinya
memfokuskan pelayanannya kepada para penganut Buddhisme. Apa yang saya tuliskan
berikut ini saya kutip dari bukunya yang luar biasa yang berjudul The Supremacy
of Christ (Terjemahan Indonesia : Supremasi Kristus, Penerbit MomentumSurabaya, hal. 33-36, 2008).
Yesus berbicara dengan otoritas yang besar. Pada Matius 28:18, Yesus
berkata :”KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Pada kesempatan
lain Yesus berkata,”Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan
berlalu.” (Matius 24:35). Ajith mengutip perkataan R.T. France, “Setiap guru
Yahudi memastikan pengajarannya terdokumentasi dengan sejumlah besar kutipan
dari kitab suci dan nama-nama gurunya untuk menambah bobot pendapatnya;
otoritasnya sendiri merupakan otoritas sekunder. Tetapi Yesus tidaklah
demikian. Dia begitu saja mengabaikan hukum itu”. Yesus tidak berkata,”Kitab
suci mengatakan...” atau “Rabi X menyatakan ....” Sebaliknya Yesus berkata, “
Aku berkata ....”
Pengajaran Yesus
pada khotbah di bukit menunjukkan dengan lantang hal tersebut. Setelah
mengajarkan pengajaran Ucapan Berbahagia, Yesus melanjutkannya dengan tema
hukum Taurat. Dalam Matius 5:21-22, Yesus berkata, “Kamu telah mendengar yang
difirmankan kepada nenek moyang kita : Jangan membunuh; siapa yang membunuh
harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu : setiap orang yang marah terhadap
saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya : Kafir! Harus
dihadapkan kepada Mahkamah Agama dan siapa yang berkata : jahil! Harus
diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”
Selanjutnya di
dalam ayat-ayat berikutnya dalam pasal tersebut di atas terdapat 5 pernyataan
sejenis yang mengikuti formula yang sama : “Kamu telah mendengar yang
difirmankan kepada nenek moyan kita : ..... (kutipan dari Perjanjian Lama).”
Dan kemudian diikuti oleh : “Tetapi aku berkata kepadamu : ...... (modifikasi
terhadap prinsip Perjanjian Lama).”
Yesus mengklaim memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Saat Yesus mengampuni dosa
seorang yang lumpuh (Markus 2:5) dan orang mempertanyakan hak-Nya melakukan itu
(mengampuni dosa), Ia membuktikannya dengan melakukan mukjizat. “Tetapi supaya
kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia mengampuni dosa. Kepadamu Kukatakan,
bangunlah dan angkatlah tempat tidurmu dan pulang ke rumahmu! Dan orang itu pun
bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan
orang-orang itu....” –Markus 2:10-12
Dalam Injil
Lukas, dikisahkan suatu ketika Yesus datang memenuhi undangan dari seorang
Farisi untuk makan di rumahnya. Di kota tersebut ada seorang perempuan yang
terkenal sebagai seorang berdosa. Perempuan tersebut mengetahui bahwa Yesus
sedang makan di rumah orang Farisi di kota itu. Ia pun mendatangi rumah
tersebut dan membasuh kaki Yesus dengan air mata dan menyeka dengan rambutnya.
Yesus yang melihat hal ini berkata kepada perempuan tersebut, “Dosamu telah
diampuni.” (Lukas 7:36-50)
Yesus tidak hanya mengatakan, ”Ikutlah ajaranKu” – Dia
berkata, ”Ikutlah Aku” dan menuntut ketaatan penuh. Dalam Matius 10:37-38, Yesus
berkata,”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak
layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih
daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa tidak memikul salibNya dan
mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu (lihat juga dalam Lukas 14:26,27).
Yesus mengambil gelar yang diberikan bagi Elohim dalam
Perjanjian Lama.
Mazmur 27:1 berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku.” (lihat juga
dalam Yesaya 60:20). Yesus berkata, “Akulah terang dunia.” (Yohanes 8:12).
Mazmur 23:1 berkata, “TUHAN adalah gembalaku” (lihat juga dalam Yehezkiel
34:15). Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik” (Yohanes 10:11).
Yesus
melihat diriNya layak menerima kehormatan yang hanya diberikan kepada Elohim. Yesaya 42:8 berkata, “Aku ini
TUHAN, itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain
atau kemasyhuranKu kepada patung” (lihat juga Yesaya 48:11). Yesus berdoa, “Bapa,
telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan
Engkau... Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan
kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yohanes 17:1,5).
Yesus berkata, “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan
penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak
sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia
juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.” (Yohanes 5:22-23). Dalam Injil
Matius, Yesus berkata juga, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan
Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap
orang menurut perbuatannya.” (Matius 16:27).
Yesus
menyatakan memiliki hubungan Bapa-Anak yang unik dengan Elohim. Ia menyebut diriNya Anak Elohim,
dan menyebut Elohim “BapaKu”. Penyebutan “BapaKu” bukan cara yang biasa yang
digunakan oleh orang Yahudi dalam memanggil Elohim. Mereka memang menyebut “Bapa
kami”, walaupun dalam menggunakan kata “Bapaku” dalam doa, biasanya mereka
memberi tambahan seperti “di dalam surga” untuk menghilangkan kesan
kekeluargaan. Yesus tidak melakukan hal itu. Dalam kitab-kitab Injil, Yesus
malah ingin menegaskan bahwa diriNya memiliki hubungan yang unik dengan Elohim
yang tidak mungkin dimiliki manusia. Saat Yesus meredakan badai dan para murid
menjadi tahu bahwa Dia bukan manusia biasa, mereka “menyembah Dia”. Mereka
mencapai kesimpulan, “Sesungguhnya Engkau Anak Elohim.” (Matius 14:33).
Yesus
menyatakan diri sebagai hakim atas umat manusia. Yesus berkata, “Apabila Anak
Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia,
maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaanNya” (Matius 25:31). Dalam ayat
32-46, Yesus menjelaskan bagaimana Dia akan menghakimi bangsa-bangsa. Mengenai
diriNya, Yesus berkata, “Ia (Bapa) telah memberikan kuasa kepadaNya untuk
menghakimi, karena Ia adalah Anak Elohim” (Yohanes 5:27). Leon Morris, seorang
ahli Perjanjian Baru, menyatakan, “Jika Yesus bukan Elohim, pernyataan ini sama
sekali tidak berdasar.” Lebih lanjut Morris berkata, “Tidak ada satu makhluk
pun yang dapat menentukan nasib kekal sesamanya.” (The Lord from Heaven,
Leicester dan Downers Grove, III : InterVarsity Press, 1974, 36).
Yesus
menyatakan bahwa nasib kekal manusia tergantung pada hubungan mereka denganNya. Ia berkata, “Karena siapa yang
mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa
kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa
gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena
apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:35-37).
Yesus
menyatakan bahwa Dia bisa memberikan kepada kita hal-hal yang hanya bisa
diberikan oleh Elohim.
Yesus berkata, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan
menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang
dikehendakiNya (Yohanes 5:21; Yohanes 11:25). Dia berkata akan memberikan “mata
air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai pada hidup yang kekal”
(Yohanes 4:14). Dia berkata akan memberikan “Damai sejahteraKu” (Yohanes 14:27)
dan “sukacitaKu” (Yohanes 15:11). Di dalam pernyataan “Akulah” dalam Injil
Yohanes, kita menemukan Yesus berkata bahwa Ia akan memberikan roti kehidupan
(Yohanes 6:35), terang kehidupan (Yohanes 8:12), dan topangan untuk
menghasilkan buah (Yohanes 15:1-8). Yesus mengatakan bahwa Dia adalah pintu
menuju keselamatan (Yohanes 10:7-9) dan jalan menuju keselamatan (Yohanes 14:6)
dan hidup yang mengalahkan kematian (Yohanes 11:25,26).
Ajith Fernando dalam bukunya
tersebut juga menyatakan, “Apa yang Yesus katakan tidak akan berani dikatakan
oleh manusia biasa yang waras.”
C.S. Lewis pun
pernah menyatakan hal tersebut mengenai perkataan dan pengajaran Yesus. Ia
menulis, “Di
sini saya sedang berusaha untuk mencegah siapapun mengatakan hal yang
benar-benar
bodoh yang seringkali dikatakan orang tentang diri-Nya: “Saya siap menerima
Yesus sebagai seorang guru moral yang agung, tetapi saya tidak menerima
klaim-Nya bahwa Ia adalah Elohim.” Itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya
kita katakan. Jika ada seorang manusia biasa yang mengatakan hal-hal seperti
yang Yesus katakan, orang itu tidak akan bisa menjadi seorang guru moral yang
agung. Ia entah akan menjadi seorang yang sinting – yang setara dengan seorang
yang mengatakan bahwa ia adalah telur yang ditim – atau sebaliknya, ia akan menjadi
sang iblis dari neraka. Anda harus menentukan pilihan anda. Entah orang ini
dulu dan sekarang adalah Putra Elohim atau orang gila dan bahkan lebih buruk
lagi. Anda bisa membungkamnya sebagai orang yang bodoh, anda bisa meludahiNya
dan membunuhNya sebagai roh jahat; atau anda bisa tersungkur di kaki-Nya dan
menyebut-Nya Tuhan dan Elohim. Tetapi hendaklah kita tidak menciptakan omong
kosong apapun yang merendahkan tentang keberadaan-Nya, bahwa Ia adalah seorang
manusia yang agung. Ia tidak memberikan kemungkinan itu kepada kita. Ia tidak
bermaksud demikian.” (Mere Christianity, Pionir Jaya, 2007, 87).
Dalam artikel berikutnya, saya akan menuliskan penjelasan tentang perkataan "I Am"-Nya Tuhan Yesus yang akan menegaskan bahwa Yesus Kristus bukanlah sekadar manusia biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar