Selasa, 16 Juli 2013
A Prayer of St Richard of Chichester (1197-1253)
Thanks be to you, our Lord Jesus Christ,
for all the benefits which you have given us,
for all the pains and insults which you have borne for us.
Most merciful Redeemer, Friend and Brother,
may we know you more clearly,
love you more dearly,
and follow you more nearly,
day by day.
Minggu, 14 Juli 2013
BLESS THE LORD - TAIZE SONG (ACCORDING PSALM 103)
BLESS THE LORD, MY SOUL, AND BLESS HIS HOLY NAME
BLESS THE LORD, MY SOUL, HE RESCUES ME FROM DEATH
IT IS HE WHO FORGIVES ALL YOUR GUILT, WHO CLEANSES YOU ALL OF YOU ILLS
WHO REDEEMS YOUR LIFE FROM THE GRAVE, WHO CROWNS YOU WITH LOVE AND COMPASSION
BLESS THE LORD, MY SOUL, AND BLESS HIS HOLY NAME
BLESS THE LORD, MY SOUL, HE RESCUES ME FROM DEATH
THE LORD COMPASSION AND LOVE, SLOW TO ANGER AND RICH IN MERCY
HE DOES NOT TREAT US ACCORDING TO OUR SINS, NOR REPAY US ACCORDING TO OUR FAULTS
BLESS THE LORD, MY SOUL, AND BLESS HIS HOLY NAME
BLESS THE LORD, MY SOUL, HE RESCUES ME FROM DEATH
AS A FATHER HAS COMPASSION ON HIS CHILDREN, THE LORD HAS PITTY ON THOSE WHO FEAR HIM; FOR HE KNOWS OF WHAT WE ARE MADE. HE REMEMBERS THAT WE ARE DUST
BLESS THE LORD, MY SOUL, AND BLESS HIS HOLY NAME
BLESS THE LORD, MY SOUL, HE RESCUES ME FROM DEATH
HAL MENGIKUTI JEJAK KRISTUS DAN MENGABAIKAN SEGALA KESIA-SIAAN DUNIA*
Tuhan bersabda: "Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan". Inilah sabda Kristus untuk menasihati kita supaya kita meniru hidup ketekunan-Nya, bila kita sungguh-sungguh ingin mendapat terang dan ingin dibebaskan dari segala kebutaan hati. Karena itu, hendaklah kita mengutamakan dan mencurahkan perhatian kita untuk merenungkan kehidupan Yesus Kristus.
Ajaran Kristus jauh melebihi semua ajaran orang-orang Kudus; dan barangsiapa mempunyai semangat sejati, akan mendapat makna yang tersembunyi di dalamnya. tetapi sering terjadi, bahwa banyak orang, meskipun telah berkali-kali mendengar Injil, rasa rindu mereka kepada Injil hanya kecil sekali, sebab mereka tidak memiliki semangat Kristus. Akan tetapi, barang siapa ingin memahami sedalam-dalamnya, dan menikmati sepenuhnya kata-kata Kristus, hendaklah ia berusaha menyesuaikan hidupnya dengan hidup Kristus.
Maka kesia-siaanlah mencari kekayaan yang fana dan menaruh pengharapan padanya. Kesia-siaan pula mengejar kehormatan dan membanggakan diri. Kesia-siaanlah, menuruti keinginan daging dan menginginkan segala sesuatu yang akhirnya harus mengakibatkan hukuman berat bagi kita. Kesia-siaanlah mengharapkan umur panjang, tetapi hanya sedikit mengindahkan hidup yang baik. Kesia-siaanlah, mencintai segala yang lewat dengan cepat dan tiada mengejar kebahagiaan yang kekal.
Hendaklah kita senantiasa ingat akan perkataan ini: "mata tidak pernah kenyang melihat, telinga tidak pernah puas mendengar". Maka hendaklah kita berusaha mengelakkan hati kita dari cinta akan yang kelihatan dan mengarahkannya kepada apa yang tidak tampak. Karena barangsiapa menuruti kenikmatan nafsu rasa, akan menodai hatinya dan kehilangan rahmat Allah.
* dikutip dari "MENGIKUTI JEJAK KRISTUS" (DE IMITATIONE CHRISTI) karya Thomas a Kempis (1380-1471), Terjemahan Indonesia, Penerbit OBOR, cet. 24, tahun 2009 (edisi revisi)
Rabu, 22 Agustus 2012
MENJAWAB TUDUHAN (BAGIAN DELAPAN)
APAKAH KEEMPAT INJIL DAPAT DIPERCAYA? (Bagian Kedua)
Tuduhan :
Tuduhan :
“Kita hanya mengetahui sangat sedikit tentang Yesus. Laporan panjang
pertama tentang kehidupanNya adalah Injil Santo Markus, yang tidak dituliskan
sampai sekitar tahun 70 M, kira-kira empat puluh tahun setelah kematianNya.
Pada saat itu, fakta-fakta sejarah telah diselaputi elemen-elemen dongeng yang
mengekspresikan makna yang telah Yesus berikan kepada para pengikutNya. Makna
inilah yang terutama disampaikan oleh Santo Markus lebih daripada suatu
pelukisan terus terang yang dapat dipercaya.” Karen Armstrong – A History of
God.
Jawab :
Tuduhan di atas hanyalah satu dari sekian banyak tuduhan yang
dilancarkan oleh pihak yang skeptik mengenai otoritas Injil. Dengan memakai
jubah risalah akademik, mereka menjatuhkan vonis bahwa Injil hanyalah produk
konspirasi dari para murid untuk mempromosikan suatu agama baru. Tuduhan yang
saya anggap sangat tendensius tetapi serampangan. Ironisnya banyak orang yang
percaya begitu saja, termasuk beberapa orang-orang Kristen yang akhirnya
meninggalkan iman percaya mereka.
Tetapi apakah tuduhan tersebut benar adanya?
Telah disepakati oleh para sarjana Alkitab, baik yang konservatif
maupun liberal, bahwa penanggalan standar bagi penulisan Injil adalah Injil
Markus pada tahun 70 M, Injil Matius dan Lukas pada tahun 80 M dan Injil
Yohanes pada tahun 90 M.
Apa hubungannya dengan tuduhan di atas?
Penulisan Injil-injil tersebut masih dalam masa kehidupan di mana
masih banyak saksi mata kehidupan Yesus, baik yang langsung maupun tidak
langsung, termasuk para saksi mata yang menentang yang akan berperan sebagai
pengoreksi jika ajaran-ajaran yang salah tentang Yesus disebarluaskan, dalam
hal ini adalah penulisan Injil-injil.
Tuduhan : Tapi mengapa harus menunggu sampai sekian puluh tahun untuk
menuliskan Injil?
Jawab :
Para pemikir skeptis merasa bahwa jeda puluhan tahun sebelum penulisan
Injil-injil adalah suatu hal yang mencurigakan. Earl Doherty mengklaim, “Bila
orang melihat di balik tabir kitab-kitab Injil, mosaik Yesus dari Nasaret cepat
sekali pecah menjadi keping-keping komponen dan pendahulu-pendahulu yang tak
dapat dikenal.” (The Jesus Puzzle: Did Christianity Begin with a Mythical
Christ)
Para pemikir skeptis merasa bahwa para murid menggunakan masa tunggu
itu untuk mempersiapkan sebuah konspirasi agama. Tuduhan yang dilancarkan oleh
para skeptis diajukan dalam sudut pandang yang keliru. “Mungkin lebih baik
bertanya seperti ini, Mengapa Injil-injil ini akhirnya ditulis?” (Reinventing
Jesus, Perkantas, Divisi Literatur)
Konsep “masa tunggu” mengimplikasikan bahwa sedari awal para murid
sudah merencanakan sejak awal penulisan Injil-injil. Tetapi pada kenyataannya
bukanlah seperti itu.
Buku Reinventing Jesus menjelaskan hal ini dengan baik, “Yang utama
dalam motivasi para rasul adalah pada awalnya ialah pewartaan Injil secara
lisan. Mereka ingin menyebarkan Injil itu secepat mungkin.”
Hal ini sesuai dengan perintah yang Tuhan Yesus berikan sesaat sebelum
kenaikanNya ke surga.
Matius 28:20 = “... dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu...”
Markus 16 : 15 = “Lalu Ia (Yesus) berkata kepada mereka : “Pergilah ke
seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk...”
Lukas 24 : 47 = “dan lagi : dalam namaNya berita tentang pertobatan
dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari
Yerusalem.”
Kemudian dalam Kisah Para rasul disebutkan berulang kali bahwa Injil
tersebar luas dan jemaat yang masih muda itu bertumbuh dengan pesat. Bayangkan
saja, hari pertama Pentakosta, khotbah Petrus menobatkan 3000 orang dalam satu
hari saja (Kisah Para Rasul 2 : 41), tidak sampai di situ, khotbah Petrus di
Serambi Salomo juga menambahkan kira-kira 5000 orang laki-laki dalam keluarga
Kristus (Kisah 4 : 4). Lebih lanjut dikisahkan bahwa setelah terjadi
penganiayaan di Yerusalem, banyak orang yang percaya lari ke berbagai daerah
lainnya di luar Yerusalem. Di perantauan, orang-orang percaya ini memberitakan
kabar baik Injil sehingga banyak orang lain yang akhirnya bertobat.
Dengan kata lain, para rasul dan pemimpin gereja mula-mula beserta
para jemaat sangat sibuk dengan pemberitaan Injil secara lisan. Berita tentang
Kabar Baik Yesus tersebut melaju dengan kecepatan mengagumkan sampai ke seluruh
wilayah kekuasaan Romawi hanya dalam beberapa tahun pertama sejak kelahiran
gereja perdana. Ini adalah bukti keberhasilan pewartaan Injil secara lisan.
Tetapi ada satu pendapat dari seorang ahli Perjanjian Baru yang layak saya
tuliskan dalam artikel kali ini. Ahli tersebut adalah Dr. Craig Blomberg. Saya
perlu menampilkan terlebih dahulu rekam jejaknya dalam dunia penelitian
Perjanjian Baru agar anda dapat menilai bagaimana pendapat dari Dr. Craig
sangat berharga dan tentunya dapat dihandalkan.
Saat ini Dr. Craig Blomberg dianggap sebagai salah satu pakar
terkemuka dalam penelitian naskah-naskah Injil. Ia memperoleh gelar Doktornya
dari Aberdeen University di Skotlandia. Ia juga ikut serta sebagai rekanan
periset senior di Tyndale House di Cambridge University di Inggris, di mana ia
adalah bagian dari sarjana internasional elit yang menghasilkan serangkaian
karya tentang Yesus yang disambut dengan baik. Ia juga menjadi seorang profesor
dalam Perjanjian Baru di Denver Seminary yang prestisius.
Karya-karya tulisnya meliputi : Jesus & The Gospels; Interpreting
the Parables; How Wide the Divide? Ia membantu mengedit jilid ke-6 dari Gospel
Perspectives, yang menguraikan mukjizat-mukjizat Yesus secara panjang lebar. Ia
juga menjadi rekanan penulis Introduction to Biblical Interpretation. Dr. Craig
juga memberikan kontribusi beberapa bab tentang kehistorisan keempat Injil di
dalam buku Reasonable Faith dan buku pemenang penghargaan Jesus Under Fire.
Bukunya yang mendapat respon luar biasa dan mengukuhkannya sebagai ahli dalam
studi keempat Injil adalah The Historical Reliability of The Gospels.
Saya mengutip pendapat Dr. Craig dalam buku karya Lee Strobel, seorang
jurnalis hukum ateis yang akhirnya menjadi Kristen, yang berjudul The Case for
Christ. Buku ini adalah hasil riset Lee, yang ketika itu masih ateis, dengan
mewancarai banyak sarjana yang ahli di bidangnya masing-masing dan meneliti
ratusan literatur untuk menemukan kebenaran Kristus, di mana Dr. Craig adalah
salah satu narasumber bagi bukunya tersebut. Buku yang akhirnya memenangkan
penghargaan prestisius sekaligus membawanya kepada pertobatan kepada Kristus.
Lee Strobel (LS) : “Anda mengindikasikan bahwa anda percaya keempat
Injil ditulis lebih awal daripada tanggal-tanggal yang anda sebutkan?”
Dr. Craig Blomberg (CB) : “Ya lebih awal. Dan kita dapat menguatkannya
dengan memperhatikan kitab Kisah Para Rasul, yang ditulis oleh Lukas. Kisah
Para Rasul rupanya belum selesai ditulis-Paulus adalah tokoh sentral dalam
kitab itu, dan ia berada dalam tahanan rumah di Roma. Dengan laporan itu, kitab
tersebut secara mendadak terputus. Apa yang terjadi pada Paulus? Kita tidak
menemukannya dalam Kisah Para Rasul, mungkin karena kitab itu ditulis sebelum
Paulus dihukum mati.”
Dengan bersemangat CB melanjutkan :
CB : “Itu berarti Kisah Para Rasul tidak dapat diberi tanggal lebih
lama daripada tahun 62 M (Disepakati oleh sejarawan, Paulus mati syahid dengan
dipenggal di Roma pada tahun 62 M). Dengan menetapkan demikian, kita kemudian
dapat bergerak mundur dari situ. Karena Kisah Para Rasul merupakan bagian kedua
dari sebuah karya yang terdiri dari dua bagian, kita tahu bagian yang pertama -
Injil Lukas - pasti telah ditulis lebih awal dari itu. Dan karena Lukas
memasukkan bagian-bagian dari Injil Markus, itu berarti Markus ditulis bahkan
lebih awal lagi.”
CB : “Jika anda memberikan waktu mungkin satu tahun bagi tiap-tiap
kitab tersebut, anda akan mendapat hitungan akhir bahwa Injil Markus ditulis
tidak lebih lama dari sekitar tahun 60 M, mungkin bahkan pada akhir tahun 50an
M. Jika Yesus dihukum mati tahun 30 atau 33 M, kita memberikan suatu celah
maksimum sebesar kurang lebih tigapuluh tahun.”
Pendapat Dr. Craig tersebut setidaknya membawa dua implikasi :
Pertama, pendapat tersebut membawa sebuah petunjuk baru mengenai
penanggalan penulisan keempat Injil. Pendapat tersebut tidak dapat diabaikan
begitu saja karena pendapat ini keluar dari seorang ahli mengenai studi keempat
Injil yang diakui oleh dunia penelitian Alkitab, khususnya Perjanjian Baru.
Kedua, pendapat ini sekaligus meruntuhkan teori spekulatif yang
serampangan yang diajukan oleh pemikir skeptik, yang ironisnya kebanyakan
diragukan rekam jejak akademiknya dalam studi Alkitab, dalam artikel kali ini
diwakili oleh Karen Armstrong dan Earl Doherty. Teori spekulatif tersebut
adalah bahwa keempat Injil sudah dilumuri oleh elemen-elemen dongeng atau
fantasi dari para penulisnya.
Mengenai hal yang kedua tersebut, saya kembali mengutip pendapat Dr.
Craig dalam The Case for Christ :
CB : “2 biografi Alexander Agung yang paling awal ditulis oleh Arrian
dan Plutarch lebih dari empat ratus tahun setelah kematian Alexander (Alexander
meninggal tahun 332 SM), walaupun demikian, para sejarawan menganggap bahwa
secara umum kedua biografi tersebut patut dipercaya. Ya, materi legenda tentang
Alexander berkembang seiring berlalunya waktu, namun itu hanya dalam abad-abad
setelah kedua penulis ini.”
CB : “Dengan kata lain, kisah Alexander terpelihara cukup utuh selama
lima ratus tahun pertama; materi legenda mulai muncul selama lima ratus tahun
sesudahnya. Jadi entah apakah keempat Injil dituliskan enam puluh atau tiga
puluh tahun setelah kehidupan Yesus di dunia, jumlah waktunya dapat diabaikan
menurut perbandingan ini. Itu bukan hampir merupakan suatu isu.”
Artinya, secara intuitif terlihat jelas bahwa semakin singkat celah
antara sebuah peristiwa dan saat ketika dicatat dalam tulisan, semakin
berkurangnya kemungkinan, bahwa tulisan itu akan menjadi legenda atau
ingatan-ingatan yang salah.
Akhir kata, inilah “kemunafikan” intelektual yang ditunjukkan oleh
pemikir-pemikir skeptik. Ketika berbicara mengenai risalah-risalah kuno non
Kristen, mereka akan bersikap obyektif dan tidak akan meneliti lebih jauh
apakah risalah-risalah tersebut benar adanya. Tetapi ketika dihadapkan pada risalah-risalah
kekristenan, khususnya mengenai Perjanjian Baru, maka mereka akan bersikap
menuduh, mencurigai dan menghakimi.
Label:
Alkitab,
apologetika,
Injil
Selasa, 21 Agustus 2012
MENJAWAB TUDUHAN (BAGIAN TUJUH)
APAKAH
KEEMPAT INJIL DAPAT DIPERCAYA? (Bagian Pertama)
Lee Strobel dalam bukunya
yang memperoleh penghargaan The Gold Medallion Book Award, The Case For Christ (sudah diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia dengan judul “Pembuktian
Atas Kebenaran Kristus : Investigasi Pribadi Seorang Jurnalis atas Bukti
tentang Yesus”, Gospel Press) menulis, “Ya, kesaksian mata dapat menawan dan meyakinkan. Saat seorang saksi
mata telah memiliki cukup kesempatan untuk mengamati suatu tindakan kriminal,
saat tidak terdapat prasangka atau motif-motif tersembunyi, saat si saksi
berlaku jujur dan adil, tindakan klimaks menunjuk kepada seorang terdakwa dalam
sebuah ruang sidang sudah cukup memberi orang itu hukuman penjara atau yang
lebih buruk dari itu.”
Kesaksian sama pentingnya dalam menginvestigasi perkara-perkara
historis, bahkan dalam sebuah permasalahan yang populer dari dulu hingga
sekarang, apakah Yesus adalah Anak
Allah sejati?
Ketika memikirkan kehidupan Yesus, maka secara otomatis kita akan
melihat kepada Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Keempat Injil dapat dikatakan
sebagai kitab biografi kehidupan Yesus. Tetapi
apakah keempat Injil adalah benar-benar menulis dengan tepat dan benar
kehidupan Yesus dan seberapa baik laporan-laporan-laporan ini (keempat Injil)
akan bertahan menghadapi penelitian cermat para skeptis. Dengan kata lain apakah keempat Injil dapat dihandalkan
sebagai sebuah sumber yang historis tentang kehidupan Yesus.
Tuduhan : Pada awalnya
Keempat Injil adalah kitab yang
anonim (tidak berjudul/bernama). Judul-judul (Injil Matius, Injil
Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes) ditambahkan
dalam suatu masa kemudian. Jadi
bagaimana kita bisa percaya bahwa nama yang melekat pada kitab-kitab tersebut
adalah penulis sesungguhnya dari
kitab-kitab tersebut?
Jawab :
Memang benar bahwa Keempat Injil pada mulanya adalah kitab yang
anonim. Tetapi kesaksian yang cukup beragam dari gereja mula-mula (para Bapa
gereja) menyatakan bahwa Matius atau
Lewi, mantan pemungut cukai dan salah satu dari 12 murid Yesus, adalah penulis
Injil Matius; Yohanes Markus yang
adalah rekan sekerja Petrus adalah penulis Injil Markus; Lukas, seorang tabib dan rekan yang
dikasihi Paulus, menulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul.
Papias, seorang Uskup Hieropolis, adalah saksi
paling awal mengenai siapa penulis Injil Markus. Papias hidup sekitar tahun
60 yang artinya ia mempelajari tentang akar iman kepercayaannya dari
generasi/jemaat Kristen mula-mula. Oleh karena itu kesaksiannya tentulah
sangat berbobot.
“Sang Penatua biasanya berkata
begini, ”Markus yang telah
menjadi penerjemah bagi Petrus menuliskan dengan tepat semua yang
diingatnya, walaupun urutannya tidak persis, tentang hal-hal yang
seperti yang dikatakan atau dilakukan Kristus. Sebab, ia tidak mendengar
langsung dari Tuhan dan mengikut Dia. Tetapi, sesudah itu, ia mengikut Petrus
yang mengadaptasi ajaran-ajaranNya sebagaimana perlu, namun tidak bermaksud
menyampaikan ucapan-ucapanNya secara berurutan. Oleh sebab itu, Markus tidak
membuat kesalahan apapun dalam menuliskan beberapa hal seperti yang diingatnya,
karena ia benar-benar berusaha untuk tidak menghilangkan apa pun yang
didengarnya atau membuat pernyataan palsu dalam semuanya itu.” (Papias, The Fragment of Papias)
Bagaimana dengan Matius, Lukas,
dan Yohanes?
Irenaeus, salah seorang
Bapa Gereja, memperkuat penamaan Injil-injil pada masa-masa sebelumnya.
Ia menulis, “Matius menerbitkan
Injilnya sendiri di antara kalangan orang-orang Yahudi, selagi Petrus dan
Paulus memberitakan Injil di Roma dan mendirikan gereja di sana. Setelah
kepergian mereka, Markus, murid dan penafsir Petrus, memberikan kepada kami
tulisan berisi kotbah-kotbah Petrus. Lukas, pengikut Paulus, mengumpulkan
Injil yang diberitakan gurunya dalam sebuah buku. Kemudian Yohanes,
murid Tuhan, yang juga bersandar di dadanya, menuliskan sendiri Injilnya
sementara ia tinggal di Efesus di Asia.” (Irenaeus, Adversus haereses)
Tuduhan : Bisa saja bahwa
para Bapa gereja memiliki suatu motivasi untuk berbohong dengan
menyatakan bahwa orang-orang inilah yang menulis Injil-injil, padahal
sebenarnya tidak.
Jawab :
Sangat tidak mungkin! Para Bapa gereja adalah figur-figur yang
diakui dengan baik integritas mereka dalam kehidupan. Lagipula nama-nama yang dilekatkan dalam Injil-injil tersebut adalah
karakter-karakter yang tidak layak untuk
penamaan kitab-kitab tersebut.
Mengapa?
Markus dan Lukas bukan bagian
dari 12 murid Yesus, bahkan Lukas bukanlah Yahudi, ia adalah seorang Yunani.
Matius memang adalah bagian dari 12
murid Yesus, tetapi latar belakangnya
sebagai mantan pemungut cukai yang dibenci, bukanlah karakter yang tepat
untuk dijadikan penulis Injil Matius. Para
Bapa gereja bisa saja memilih nama-nama yang lebih kredibel, misalnya Petrus,
Yakobus, Maria atau Filipus. Tetapi nyatanya mereka tidak melakukan itu.
Ironisnya beberapa pihak yang mengaku sebagai ahli Perjanjian Baru
malah memilih kitab-kitab yang isinya penuh khayalan, bertentangan dengan
ortodoksi Kristen dan ditulis jauh setelah kematian Yesus serta “memaksakan” opini
bahwa kitab-kitab tersebut lebih layak dan kredibel dimasukkan dalam kanon
Perjanjian Baru menggantikan Keempat Injil. Dan tebak apakah nama dari
kitab-kitab tersebut? Injil Yudas, Injil Thomas, Injil Petrus, Injil Maria
Magdalena.
Label:
Alkitab,
apologetika,
history,
Injil
Minggu, 29 Juli 2012
Menjawab Tuduhan (Bagian Enam)
KONSILI NICEA (Bagian Kedua)
HOMOOUSIOS ATAU HOMOI-OUSIOS
HOMOOUSIOS ATAU HOMOI-OUSIOS
Setelah
para uskup mengetahui dan menolak apa yang menjadi teologi Arius, mereka
sepakat untuk membuat sebuah pernyataan resmi yang akan disusun dan
ditandatangani oleh semua uskup yang hadir. Hosius, penasihat teologi
Konstantinus, diangkat sebagai juru tulis dokumen yang baru. Tetapi dalam
pembuatan pernyataan tersebut, para uskup terbentur oleh masalah istilah.
Kelompok pendukung Arius menginginkan agar hanya dipakai istilah-istilah yang
digunakan dalam Alkitab, sedangkan para uskup penentang Arius menegaskan perlu
adanya bahasa di luar Alkitab untuk menguraikan makna kata-kata dalam Alkitab.
Konstantinus
yang melihat perdebatan yang semakin meruncing memanggil Hosius untuk dimintai pendapatnya. Hosius segera menyampaikan
pendapatnya dan Konstantinus menilai apa yang disampaikan oleh Hosius dapat
menjadi solusi bagi kedua belah pihak yang berbeda pendapat. Konstantinus
mengusulkan bahwa Sang Anak memiliki
“hakikat yang sama” (Yunani: homoousios) seperti Bapa. Istilah ini
dianggap Konstantinus akan menunjukkan Yesus sepenuhnya bersifat ilahi
(sehingga dapat diterima oleh pihak yang menentang Arius) tanpa menyiratkan
terlalu banyak penafsiran yang lain (sehingga melenyapkan kekhawatiran
pendukung Arian). Sebagian besar uskup kelihatan bersedia menerima rumusan ini.
Tetapi, pendukung Arius yang berhaluan keras menilai istilah itu sarat makna.
Dalam pandangan mereka, istilah homoousios
mengakui kesetaraan Yesus dengan Bapa namun tidak menjelaskan secara memadai
bagaimana kesetaraan itu dapat selaras dengan kepercayaan kepada Tuhan yang
Esa.
Tanpa
mempedulikan penentangan keras dari segelintir orang, para uskup yang
menyetujui rumusan homoousios maju
terus dengan dukungan mayoritas dan menyusun suatu pengakuan iman yang
menyatakan Kristus sehakikat dengan Bapa. Pengakuan iman tersebut adalah :
“Aku percaya akan satu Elohim, Bapa yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.
Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat (homoousios) dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan olehnya.Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari perawan Maria dan menjadi manusia.Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus, Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; Kerajaan-Nya takkan berakhir.
Aku percaya akan Roh Kudus, Tuhan yang menghidupkan; yang berasal dari Bapa dan Putra, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan. Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, universal dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di dunia yang akan datang. Amin.”
Semua
uskup menandatangani pengakuan itu, kecuali Theonas dari Marmarika dan Sekundus
dari Ptolemais. Tetapi pesan keseluruhan sangat jelas : Paham Arianisme tidak
sesuai dengan iman Kristen secara historis dan apa yang dipraktikkan dalam
gereja.
Dalam
perkembangan selanjutnya, ada beberapa orang yang kurang setuju dengan rumusan homoousios. Mereka khawatir, rumusan
yang dimaksud untuk mengatakan Bapa dan Anak memiliki hakikat yang sama dapat
dipelintir sehingga Bapa dan Anak dimengerti sebagai pribadi yang sama.
Kelompok ini mengusulkan, jika rumusan homoousios
diubah sedikit, selesailah persoalannya.
Dalam
bahasa Yunani, perbedaan kata “sama”
(homo) dan “serupa” (homoi) hanya
terletak pada huruf “i” (atau iota). Dengan mengubah homo-ousios menjadi homoi-ousios, sebagian
orang yang anti Arius mengatakan Anak mempunyai “hakikat yang serupa”
dengan Bapa. Dengan kata lain, mereka menegaskan keilahian Anak namun melihat
Dia sebagai pribadi yang berbeda dengan Bapa. Tetapi kalangan anti Arius lainnya
menolak rumusan yang lebih longgar ini. Mereka berpendapat rumusan homoi-ousios tidak sepenuhnya
menggambarkan kesetaraan Kristus yang bersifat hakiki dengan Allah. Lagipula,
Arius dan para pendukungnya sangat senang menggunakan istilah yang lebih longgar
ini untuk Kristus yang diciptakan. Oleh karena itu, banyak kalangan anti Arius
tetap berpegang teguh dengan istilah homoousios.
Athanasius
adalah salah satu orang yang tetap berpegang pada pengakuan iman Nicea. Ia
tidak mau mengalah sedikit pun - bahkan satu iota pun.
Dalam
tulisan berikutnya kita akan berkenalan dengan tokoh Athanasius tersebut yang
luar biasa teguhnya memegang keyakinan iman Nicea.
Bacaan lebih lanjut mengenai Konsili Nicea :
1. Philip Schaff, History of The Christian Church (New York: Scribners, 1882)
2. Roger E. Colson, The Story of Christian Theology (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1999)
Sabtu, 21 Juli 2012
Menjawab Tuduhan (Bagian Lima)
KONSILI NICEA (Bagian Pertama)
Beberapa
tahun belakangan ini muncul klaim populer yang menyatakan bahwa keilahian Yesus
diciptakan di Nicea. Beberapa apologet muslim menggunakan klaim ini untuk
menyerang keyakinan vital umat Kristen ini. Mereka menganggap bahwa sebelum
Konsili Nicea, Yesus hanyalah nabi biasa. Kaisar Romawi, Konstantinus lah yang
menjadi aktor intelektual lahirnya keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan melalui
sebuah sidang, yakni Konsili Nicea.
Ironisnya,
klaim yang sama ini akan dianggap ketinggalan zaman oleh umat Kristen abad
ke-4.
Dalam
tulisan kali ini, saya mencoba untuk menuliskan apa yang menjadi masalah
sesungguhnya di Nicea.
Tuduhan
: “Dengan mendukung Yesus secara resmi
sebagai Anak Allah, Konstantinus mengubah Yesus menjadi Yang Ilahi yang berada
di luar lingkup dunia manusia, suatu sosok yang kuasanya tak dapat digugat.”
~ Dan Brown, The Da Vinci Code, hal. 233.
Jawab
:
Titik
mula perjalanan menuju Nicea adalah
di sebuah kota yang terletak di pesisir Laut
Tengah di bagian barat laut Mesir, Alexandria.
Kota ini dalam sejarah kekristenan awal memiliki peran penting. Beberapa teolog
besar Kristen berasal dari kota metropolitan ini.
Pada
masa Uskup Alexander, seorang teolog
dan pemimpin gereja yang disegani, terjadi perdebatan serius dalam sebuah sesi
seminar bagi para pejabat gereja senior. Arius,
seorang imam dari sebuah wilayah gereja di Alexandria, berdebat dengan Alexander tentang bagaimana tepatnya
melukiskan status Yesus yang ilahi. Alexander menegaskan, Yesus mempunyai semua sifat ilahi yang
dimiliki Sang Bapa, termasuk kekekalan. Arius
percaya, Yesus bersifat ilahi,
karena Dia serupa dengan Bapa. Ia sudah ada sebelum penciptaan dunia dan turut
berkarya dalam penciptaan. Tetapi Yesus
tidak bersifat kekal. Ia hanyalah makhluk yang diciptakan Bapa dari ex
nihilo (dari ketiadaan) sejak kekal. Sifat ilahi Yesus dengan Bapa
tidak identik. Dengan kata lain, Yesus memiliki keilahian yang lebih rendah
dari Bapa. Dalam perdebatan tersebut, Arius kalah telak dengan pembelaan
Alexander di dalam seminar tersebut.
Alexander
tidak tinggal diam. Ia dengan gigih mempertahankan bahwa keilahian bersifat
mutlak. Alexander menganalogikannya dengan kehamilan. Seorang perempuan tidak
mungkin hamil setengah-setengah. Seekor kangguru akan melahirkan anak kangguru,
manusia akan melahirkan anak manusia, dan akhirnya sesuatu yang ilahi akan
melahirkan yang ilahi. Yesus seharusnya memiliki seluruh sifat keilahian, atau
pilihannya Dia sama sekali bukan ilahi.
Tetapi
tampaknya Arius tidak mau mengalah begitu saja. Ia tetap mengajarkan
pemikirannya tersebut. Bahkan Arius menyalahkan Alexander atas tumbuh dan
berkembangnya bidat Sabelianisme (kecenderungan untuk menganggap Bapa, Putra
dan Roh Kudus adalah manifestasi yang berbeda-beda dari Tuhan). Alexander
sebenarnya adalah pemimpin yang lembut dan sangat menghindari konflik, tetapi
ia sadar ia tidak dapat diam saja ketika persoalannya sudah menyangkut
keilahian Yesus. Keyakinan ini adalah batu penjuru dalam bangunan kekristenan.
Hal ini juga menyangkut kebenaran keselamatan manusia. Oleh karena itu pada
tahun 318, Alexander mengumpulkan sekitar 100 uskup di Alexandria untuk
membicarakan hal itu, lalu secara resmi memecat Arius dari jabatan gerejawinya.
Arius
sangat marah mendengar pemecatan dirinya dari jabatan yang disandangnya. Ia
pindah ke Nikomedia (wilayah Turki modern) dan menghimpun para pendukungnya (di
kemudian hari, para pendukungnya tersebut dikenal dengan kaum Arian dan pandangan teologisnya mengenai keilahian Yesus disebut Arianisme). Salah
satu pendukung terkuatnya adalah Eusebius dari Nikomedia, yang mempunyai
hubungan keluarga dengan kaisar Konstantinus melalui pernikahan. Arius dan
Eusebius melancarkan suatu kampanye tertulis kepada para uskup yang tidak ikut
dalam sidang pemecatan Arius. Hal ini cukup berhasil sehingga menyulut gerakan
yang berdampak eksplosif. Tiap-tiap hari selalu ada bentrokan fisik antara
pendukung Alexander dengan Arius di jalanan.
Karena
terjadi di salah satu kota besar di wilayah kekuasaan Romawi, kerusuhan ini
segera terdengar oleh kaisar Konstantinus. Patut diingat, bahwa ketika itu
agama Kristen telah disahkan oleh Kontantinus sebagai agama kekaisaran. Akibat
dekrit tersebut, jumlah pemeluk agama Kristen menjadi meningkat tajam. Oleh
karena itu, Konstantinus merasa resah dengan konflik yang semakin menajam
antara pendukung Alexander dengan Arius. Sebagai Kaisar ia tidak memusingkan
adanya perbedaan pemikiran yang terjadi di antara warga negaranya asalkan itu
tidak membawa suatu pertikaian fisik. Posisi Konstantinus jelas, ia menghendaki
kedamaian di kekaisarannya. Persatuan dan kesatuan di dalam kerajaannya lah
yang menjadi tujuannya setelah selama puluhan tahun terjebak dalam serangkaian
perang saudara.
Untuk
mengakhiri konflik ini, Konstantinus mengundang semua uskup di wilayah
kekaisarannya pada tahun 325. Karena ia sedang menginap di istananya di tepi
danau, di Nicea yang merupakan wilayah timur dari kekaisarannya, maka kebanyakan
uskup yang hadir adalah uskup-uskup yang bertugas di wilayah timur. Hanya 6
uskup dari wilayah barat yang hadir dalam pertemuan tersebut. Konstantinus
memperlakukan dengan spesial para uskup tersebut. Tamu-tamu terhormat tersebut
tiba di Nicea dengan menggunakan transportasi khusus kekaisaran. Biaya
perjalanan ditanggung seluruhnya oleh istana. Tidak hanya itu mereka pun
disambut dengan hadiah-hadiah mewah dan diberi penginapan mewah dan aman.
Konstantinus melakukan hal ini untuk mempersatukan gereja di dalam
kekaisarannya. Tetapi bukan Konstantinus yang mengambil keputusan akhir dalam
pertemuan tersebut.
Yang
tidak diketahui atau ditutup-tutupi oleh para penuduh abad sekarang ini adalah
bahwa para uskup yang hadir dalam sidang di Nicea tersebut lebih biasa menerima siksaan daripada
dimanja. Semua yang hadir pernah mengalami siksaan di bawah kaisar Diokletianus
(memerintah sekitar 284-305), kaisar yang berusaha untuk melenyapkan
kekristenan dari muka bumi dan Maksimianus (memerintah 286-305) yang tidak
segan-segan menghukum mati orang-orang yang menolak menyangkal Kristus.
Menurut
laporan, banyak dari para uskup yang memiliki tanda-tanda bekas siksaan. Ada
uskup yang kehilangan mata kanannya, ada yang berjalan timpang, beberapa lagi
tidak dapat memakai jari tangannya akibat syaraf-syaraf tangannya telah mati
akibat disodok oleh besi panas, beberapa lagi kehilangan kaki atau tangan.
Begitu nyata tanda penganiyaan tersebut, sehingga seorang penulis sejarah
gereja mengatakan, “Konsili itu kelihatan seperti sidang para martir!” Jadi
para penuduh yang menyatakan bahwa para uskup yang hadir tunduk pada keputusan
Konstantinus mendapat bukti nyata dan telak. Tentunya, para uskup yang telah
mendapat siksaan yang luar biasa kejamnya tersebut tidak akan mengorbankan
integritas rohaninya dan begitu mudah didikte mengenai apa yang mereka percaya
tentang Kristus, tanpa peduli ada atau tidak tekanan dari kaisar.
Hal
lain yang dapat mementahkan argumen para penuduh adalah bahwa tidak ada satu
pun uskup yang hadir dalam Konsili Nicea mengira bahwa keilahian Yesus yang
akan dibahas dalam konsili itu. Keilahian Yesus adalah kepercayaan umum yang
dipegang oleh para uskup dan seluruh umat Kristen saat itu selama lebih dari
tiga abad. Sama seperti para pendahulu mereka, para uskup dan jemaat Kristen,
secara aktif menyembah Yesus, berdoa kepadaNya dan mengakui Dia sebagai Tuhan!
Hal inilah yang saya tulis pada tulisan pengantar pada tema ini yang menyatakan
bahwa klaim bahwa keilahian Yesus diciptakan di (konsili) Nicea adalah klaim
yang dianggap ketinggalan zaman oleh umat Kristen abad keempat.
Apa
yang terjadi dalam konsili tersebut adalah bahwa para uskup lebih banyak
berkotbah daripada berpolitik. Mereka terbeban bagi jemaat mereka dan demi
kesetiaan kepada “bapa-bapa gereja yang kudus”. Mereka menghimpun hikmat dari
bapa-bapa gereja untuk memahami hakikat Kristus dan tentunya mencari kesaksian
Roh tentang kebenaran dalam konteks umat. Melihat hal ini sudah cukup
membungkam para penuduh abad sekarang ini bahwa tidak mungkin Konstantinus,
selaku kaisar, dapat mengintervensi atau bahkan mengarahkan konsili tersebut
kepada satu tujuan. Para uskup dalam konsili lebih mementingkan tradisi rasuli
yang dipercayai selama tiga abad terakhir, bahkan mereka rela meninggalkan
teologi yang dipraktikkan dalam jemaat mereka untuk bersatu dengan umat Kristen
lainnya yang lebih luas untuk membicarakan apa yang telah dipraktikkan
bersama-sama.
Kaisar
bukanlah teolog. Oleh karena itu ia mengandalkan penasihat teologinya, Hosius,
untuk memetakan persoalan kepadanya. Konstantinus ingin mendapat suatu
penyelesaian yang didukung oleh sebagian besar uskup, tidak menjadi soal apa
pun isinya. Ia hanya memikirkan keutuhan kekaisarannya daripada rumusan
teologis yang tepat. Tidak lama setelah dimulainya persidangan, ada beberapa
uskup yang meminta agar pendirian Arius dijelaskan terlebih dahulu. Arius
hanyalah imam sehingga ia tidak dapat hadir dalam konsili. Ia diwakili oleh
sahabat sekaligus pendukung utamanya, Eusebius dari Nikomedia. Eusebius
menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan pendirian Arius secara gamblang.
Ia benar-benar berusaha keras untuk menjelaskan bahwa Anak sama sekali tidak
setara dengan Bapa dan sesungguhnya hanyalah makhluk terbatas. Para uskup yang
hadir terkejut dengan penjelasan Eusebius. Sejarawan gereja, Roger E . Colson,
menceritakan keadaan saat itu :
“Beberapa
uskup menutupi telinga mereka dengan tangan mereka dan berteriak supaya ada
orang yang menghentikan hujatan-hujatan itu (penjelasan Eusebius tentang posisi
Arius). Seorang uskup dekat Eusebius maju dan merebut naskah dari tangannya,
lalu mencampakkannya ke lantai dan menginjak-injaknya. Keadaan kacau ini baru
berhenti atas perintah kaisar.” (Roger E. Colson, The Story of Christian
Theology (Downers Grove. IL : InterVarsity Press, 1999, hal. 153-154)
Para
uskup yang sebelumnya tidak tahu dengan pasti duduk persoalannya dan belum
menentukan sikapnya langsung memandang Arius sebagai pihak yang berseberangan.
Mayoritas uskup tidak dapat menerima pendirian yang menganggap bahwa Yesus
terbatas. Keilahian yang terbatas bukanlah keilahian. Semakin banyak yang
mendesak agar konsili mengeluarkan pernyataan resmi melawan teologi Arius atau
Arianisme.
Para
uskup tidak senang dengan apa yang dikatakan Arius dan para pengikutnya tentang
natur anak yang terbatas. Mereka tahu
apa yang tidak mereka percayai.
Namun, bagaimana mereka dapat merumuskan dengan tepat apa yang mereka percayai
tentang keilahian Kristus? Jadi, masalah utama di Nicea adalah menentukan bagaimana – bukan apakah – Yesus bersifat ilahi.
Apa
yang terjadi dalam konsili tersebut dalam menentukan bagaimana Yesus bersifat ilahi? Kita akan mengetahuinya dalam
tulisan saya berikutnya....
Label:
apologetika,
doktrin,
sejarah gereja
Langganan:
Postingan (Atom)