Minggu, 29 Juli 2012

Menjawab Tuduhan (Bagian Enam)

KONSILI NICEA (Bagian Kedua)


HOMOOUSIOS ATAU HOMOI-OUSIOS

Setelah para uskup mengetahui dan menolak apa yang menjadi teologi Arius, mereka sepakat untuk membuat sebuah pernyataan resmi yang akan disusun dan ditandatangani oleh semua uskup yang hadir. Hosius, penasihat teologi Konstantinus, diangkat sebagai juru tulis dokumen yang baru. Tetapi dalam pembuatan pernyataan tersebut, para uskup terbentur oleh masalah istilah. Kelompok pendukung Arius menginginkan agar hanya dipakai istilah-istilah yang digunakan dalam Alkitab, sedangkan para uskup penentang Arius menegaskan perlu adanya bahasa di luar Alkitab untuk menguraikan makna kata-kata dalam Alkitab.

Konstantinus yang melihat perdebatan yang semakin meruncing memanggil Hosius untuk dimintai pendapatnya. Hosius segera menyampaikan pendapatnya dan Konstantinus menilai apa yang disampaikan oleh Hosius dapat menjadi solusi bagi kedua belah pihak yang berbeda pendapat. Konstantinus mengusulkan bahwa Sang Anak memiliki “hakikat yang sama” (Yunani: homoousios) seperti Bapa. Istilah ini dianggap Konstantinus akan menunjukkan Yesus sepenuhnya bersifat ilahi (sehingga dapat diterima oleh pihak yang menentang Arius) tanpa menyiratkan terlalu banyak penafsiran yang lain (sehingga melenyapkan kekhawatiran pendukung Arian). Sebagian besar uskup kelihatan bersedia menerima rumusan ini. Tetapi, pendukung Arius yang berhaluan keras menilai istilah itu sarat makna. Dalam pandangan mereka, istilah homoousios mengakui kesetaraan Yesus dengan Bapa namun tidak menjelaskan secara memadai bagaimana kesetaraan itu dapat selaras dengan kepercayaan kepada Tuhan yang Esa.

Tanpa mempedulikan penentangan keras dari segelintir orang, para uskup yang menyetujui rumusan homoousios maju terus dengan dukungan mayoritas dan menyusun suatu pengakuan iman yang menyatakan Kristus sehakikat dengan Bapa. Pengakuan iman tersebut adalah :

Aku percaya akan satu Elohim, Bapa yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.

Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat (homoousios) dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan olehnya.Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari perawan Maria dan menjadi manusia.Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus, Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; Kerajaan-Nya takkan berakhir.

Aku percaya akan Roh Kudus, Tuhan yang menghidupkan; yang berasal dari Bapa dan Putra, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan. Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, universal dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di dunia yang akan datang. Amin.”


Semua uskup menandatangani pengakuan itu, kecuali Theonas dari Marmarika dan Sekundus dari Ptolemais. Tetapi pesan keseluruhan sangat jelas : Paham Arianisme tidak sesuai dengan iman Kristen secara historis dan apa yang dipraktikkan dalam gereja.

Dalam perkembangan selanjutnya, ada beberapa orang yang kurang setuju dengan rumusan homoousios. Mereka khawatir, rumusan yang dimaksud untuk mengatakan Bapa dan Anak memiliki hakikat yang sama dapat dipelintir sehingga Bapa dan Anak dimengerti sebagai pribadi yang sama. Kelompok ini mengusulkan, jika rumusan homoousios diubah sedikit, selesailah persoalannya.

Dalam bahasa Yunani, perbedaan kata “sama” (homo) dan “serupa” (homoi) hanya terletak pada huruf “i” (atau iota). Dengan mengubah homo-ousios menjadi homoi-ousios, sebagian orang yang anti Arius mengatakan Anak mempunyai “hakikat yang serupa” dengan Bapa. Dengan kata lain, mereka menegaskan keilahian Anak namun melihat Dia sebagai pribadi yang berbeda dengan Bapa. Tetapi kalangan anti Arius lainnya menolak rumusan yang lebih longgar ini. Mereka berpendapat rumusan homoi-ousios tidak sepenuhnya menggambarkan kesetaraan Kristus yang bersifat hakiki dengan Allah. Lagipula, Arius dan para pendukungnya sangat senang menggunakan istilah yang lebih longgar ini untuk Kristus yang diciptakan. Oleh karena itu, banyak kalangan anti Arius tetap berpegang teguh dengan istilah homoousios. Athanasius adalah salah satu orang yang tetap berpegang pada pengakuan iman Nicea. Ia tidak mau mengalah sedikit pun - bahkan satu iota pun.

Dalam tulisan berikutnya kita akan berkenalan dengan tokoh Athanasius tersebut yang luar biasa teguhnya memegang keyakinan iman Nicea.


Bacaan lebih lanjut mengenai Konsili Nicea :

1. Philip Schaff, History of The Christian Church (New York: Scribners, 1882)

2. Roger E. Colson, The Story of Christian Theology (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1999)

Sabtu, 21 Juli 2012

Menjawab Tuduhan (Bagian Lima)


KONSILI NICEA (Bagian Pertama)

Beberapa tahun belakangan ini muncul klaim populer yang menyatakan bahwa keilahian Yesus diciptakan di Nicea. Beberapa apologet muslim menggunakan klaim ini untuk menyerang keyakinan vital umat Kristen ini. Mereka menganggap bahwa sebelum Konsili Nicea, Yesus hanyalah nabi biasa. Kaisar Romawi, Konstantinus lah yang menjadi aktor intelektual lahirnya keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan melalui sebuah sidang, yakni Konsili Nicea.

Ironisnya, klaim yang sama ini akan dianggap ketinggalan zaman oleh umat Kristen abad ke-4.

Dalam tulisan kali ini, saya mencoba untuk menuliskan apa yang menjadi masalah sesungguhnya di Nicea.

Tuduhan : “Dengan mendukung Yesus secara resmi sebagai Anak Allah, Konstantinus mengubah Yesus menjadi Yang Ilahi yang berada di luar lingkup dunia manusia, suatu sosok yang kuasanya tak dapat digugat.” ~ Dan Brown, The Da Vinci Code, hal. 233.

Jawab :

Titik mula perjalanan menuju Nicea adalah di sebuah kota yang terletak di pesisir Laut Tengah di bagian barat laut Mesir, Alexandria. Kota ini dalam sejarah kekristenan awal memiliki peran penting. Beberapa teolog besar Kristen berasal dari kota metropolitan ini.

Pada masa Uskup Alexander, seorang teolog dan pemimpin gereja yang disegani, terjadi perdebatan serius dalam sebuah sesi seminar bagi para pejabat gereja senior. Arius, seorang imam dari sebuah wilayah gereja di Alexandria, berdebat dengan Alexander tentang bagaimana tepatnya melukiskan status Yesus yang ilahi. Alexander menegaskan, Yesus mempunyai semua sifat ilahi yang dimiliki Sang Bapa, termasuk kekekalan. Arius percaya, Yesus bersifat ilahi, karena Dia serupa dengan Bapa. Ia sudah ada sebelum penciptaan dunia dan turut berkarya dalam penciptaan. Tetapi Yesus tidak bersifat kekal. Ia hanyalah makhluk yang diciptakan Bapa dari ex nihilo (dari ketiadaan) sejak kekal. Sifat ilahi Yesus dengan Bapa tidak identik. Dengan kata lain, Yesus memiliki keilahian yang lebih rendah dari Bapa. Dalam perdebatan tersebut, Arius kalah telak dengan pembelaan Alexander di dalam seminar tersebut.

Alexander tidak tinggal diam. Ia dengan gigih mempertahankan bahwa keilahian bersifat mutlak. Alexander menganalogikannya dengan kehamilan. Seorang perempuan tidak mungkin hamil setengah-setengah. Seekor kangguru akan melahirkan anak kangguru, manusia akan melahirkan anak manusia, dan akhirnya sesuatu yang ilahi akan melahirkan yang ilahi. Yesus seharusnya memiliki seluruh sifat keilahian, atau pilihannya Dia sama sekali bukan ilahi.

Tetapi tampaknya Arius tidak mau mengalah begitu saja. Ia tetap mengajarkan pemikirannya tersebut. Bahkan Arius menyalahkan Alexander atas tumbuh dan berkembangnya bidat Sabelianisme (kecenderungan untuk menganggap Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah manifestasi yang berbeda-beda dari Tuhan). Alexander sebenarnya adalah pemimpin yang lembut dan sangat menghindari konflik, tetapi ia sadar ia tidak dapat diam saja ketika persoalannya sudah menyangkut keilahian Yesus. Keyakinan ini adalah batu penjuru dalam bangunan kekristenan. Hal ini juga menyangkut kebenaran keselamatan manusia. Oleh karena itu pada tahun 318, Alexander mengumpulkan sekitar 100 uskup di Alexandria untuk membicarakan hal itu, lalu secara resmi memecat Arius dari jabatan gerejawinya.

Arius sangat marah mendengar pemecatan dirinya dari jabatan yang disandangnya. Ia pindah ke Nikomedia (wilayah Turki modern) dan menghimpun para pendukungnya (di kemudian hari, para pendukungnya tersebut dikenal dengan kaum Arian dan pandangan teologisnya mengenai keilahian Yesus disebut Arianisme). Salah satu pendukung terkuatnya adalah Eusebius dari Nikomedia, yang mempunyai hubungan keluarga dengan kaisar Konstantinus melalui pernikahan. Arius dan Eusebius melancarkan suatu kampanye tertulis kepada para uskup yang tidak ikut dalam sidang pemecatan Arius. Hal ini cukup berhasil sehingga menyulut gerakan yang berdampak eksplosif. Tiap-tiap hari selalu ada bentrokan fisik antara pendukung Alexander dengan Arius di jalanan.

Karena terjadi di salah satu kota besar di wilayah kekuasaan Romawi, kerusuhan ini segera terdengar oleh kaisar Konstantinus. Patut diingat, bahwa ketika itu agama Kristen telah disahkan oleh Kontantinus sebagai agama kekaisaran. Akibat dekrit tersebut, jumlah pemeluk agama Kristen menjadi meningkat tajam. Oleh karena itu, Konstantinus merasa resah dengan konflik yang semakin menajam antara pendukung Alexander dengan Arius. Sebagai Kaisar ia tidak memusingkan adanya perbedaan pemikiran yang terjadi di antara warga negaranya asalkan itu tidak membawa suatu pertikaian fisik. Posisi Konstantinus jelas, ia menghendaki kedamaian di kekaisarannya. Persatuan dan kesatuan di dalam kerajaannya lah yang menjadi tujuannya setelah selama puluhan tahun terjebak dalam serangkaian perang saudara.

Untuk mengakhiri konflik ini, Konstantinus mengundang semua uskup di wilayah kekaisarannya pada tahun 325. Karena ia sedang menginap di istananya di tepi danau, di Nicea yang merupakan wilayah timur dari kekaisarannya, maka kebanyakan uskup yang hadir adalah uskup-uskup yang bertugas di wilayah timur. Hanya 6 uskup dari wilayah barat yang hadir dalam pertemuan tersebut. Konstantinus memperlakukan dengan spesial para uskup tersebut. Tamu-tamu terhormat tersebut tiba di Nicea dengan menggunakan transportasi khusus kekaisaran. Biaya perjalanan ditanggung seluruhnya oleh istana. Tidak hanya itu mereka pun disambut dengan hadiah-hadiah mewah dan diberi penginapan mewah dan aman. Konstantinus melakukan hal ini untuk mempersatukan gereja di dalam kekaisarannya. Tetapi bukan Konstantinus yang mengambil keputusan akhir dalam pertemuan tersebut.


 Konsili Para Martir!

Yang tidak diketahui atau ditutup-tutupi oleh para penuduh abad sekarang ini adalah bahwa para uskup yang hadir dalam sidang di Nicea tersebut  lebih biasa menerima siksaan daripada dimanja. Semua yang hadir pernah mengalami siksaan di bawah kaisar Diokletianus (memerintah sekitar 284-305), kaisar yang berusaha untuk melenyapkan kekristenan dari muka bumi dan Maksimianus (memerintah 286-305) yang tidak segan-segan menghukum mati orang-orang yang menolak menyangkal Kristus.

Menurut laporan, banyak dari para uskup yang memiliki tanda-tanda bekas siksaan. Ada uskup yang kehilangan mata kanannya, ada yang berjalan timpang, beberapa lagi tidak dapat memakai jari tangannya akibat syaraf-syaraf tangannya telah mati akibat disodok oleh besi panas, beberapa lagi kehilangan kaki atau tangan. Begitu nyata tanda penganiyaan tersebut, sehingga seorang penulis sejarah gereja mengatakan, “Konsili itu kelihatan seperti sidang para martir!” Jadi para penuduh yang menyatakan bahwa para uskup yang hadir tunduk pada keputusan Konstantinus mendapat bukti nyata dan telak. Tentunya, para uskup yang telah mendapat siksaan yang luar biasa kejamnya tersebut tidak akan mengorbankan integritas rohaninya dan begitu mudah didikte mengenai apa yang mereka percaya tentang Kristus, tanpa peduli ada atau tidak tekanan dari kaisar.

Hal lain yang dapat mementahkan argumen para penuduh adalah bahwa tidak ada satu pun uskup yang hadir dalam Konsili Nicea mengira bahwa keilahian Yesus yang akan dibahas dalam konsili itu. Keilahian Yesus adalah kepercayaan umum yang dipegang oleh para uskup dan seluruh umat Kristen saat itu selama lebih dari tiga abad. Sama seperti para pendahulu mereka, para uskup dan jemaat Kristen, secara aktif menyembah Yesus, berdoa kepadaNya dan mengakui Dia sebagai Tuhan! Hal inilah yang saya tulis pada tulisan pengantar pada tema ini yang menyatakan bahwa klaim bahwa keilahian Yesus diciptakan di (konsili) Nicea adalah klaim yang dianggap ketinggalan zaman oleh umat Kristen abad keempat.

Apa yang terjadi dalam konsili tersebut adalah bahwa para uskup lebih banyak berkotbah daripada berpolitik. Mereka terbeban bagi jemaat mereka dan demi kesetiaan kepada “bapa-bapa gereja yang kudus”. Mereka menghimpun hikmat dari bapa-bapa gereja untuk memahami hakikat Kristus dan tentunya mencari kesaksian Roh tentang kebenaran dalam konteks umat. Melihat hal ini sudah cukup membungkam para penuduh abad sekarang ini bahwa tidak mungkin Konstantinus, selaku kaisar, dapat mengintervensi atau bahkan mengarahkan konsili tersebut kepada satu tujuan. Para uskup dalam konsili lebih mementingkan tradisi rasuli yang dipercayai selama tiga abad terakhir, bahkan mereka rela meninggalkan teologi yang dipraktikkan dalam jemaat mereka untuk bersatu dengan umat Kristen lainnya yang lebih luas untuk membicarakan apa yang telah dipraktikkan bersama-sama.

Kaisar bukanlah teolog. Oleh karena itu ia mengandalkan penasihat teologinya, Hosius, untuk memetakan persoalan kepadanya. Konstantinus ingin mendapat suatu penyelesaian yang didukung oleh sebagian besar uskup, tidak menjadi soal apa pun isinya. Ia hanya memikirkan keutuhan kekaisarannya daripada rumusan teologis yang tepat. Tidak lama setelah dimulainya persidangan, ada beberapa uskup yang meminta agar pendirian Arius dijelaskan terlebih dahulu. Arius hanyalah imam sehingga ia tidak dapat hadir dalam konsili. Ia diwakili oleh sahabat sekaligus pendukung utamanya, Eusebius dari Nikomedia. Eusebius menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan pendirian Arius secara gamblang. Ia benar-benar berusaha keras untuk menjelaskan bahwa Anak sama sekali tidak setara dengan Bapa dan sesungguhnya hanyalah makhluk terbatas. Para uskup yang hadir terkejut dengan penjelasan Eusebius. Sejarawan gereja, Roger E . Colson, menceritakan keadaan saat itu :

Beberapa uskup menutupi telinga mereka dengan tangan mereka dan berteriak supaya ada orang yang menghentikan hujatan-hujatan itu (penjelasan Eusebius tentang posisi Arius). Seorang uskup dekat Eusebius maju dan merebut naskah dari tangannya, lalu mencampakkannya ke lantai dan menginjak-injaknya. Keadaan kacau ini baru berhenti atas perintah kaisar.” (Roger E. Colson, The Story of Christian Theology (Downers Grove. IL : InterVarsity Press, 1999, hal. 153-154)

Para uskup yang sebelumnya tidak tahu dengan pasti duduk persoalannya dan belum menentukan sikapnya langsung memandang Arius sebagai pihak yang berseberangan. Mayoritas uskup tidak dapat menerima pendirian yang menganggap bahwa Yesus terbatas. Keilahian yang terbatas bukanlah keilahian. Semakin banyak yang mendesak agar konsili mengeluarkan pernyataan resmi melawan teologi Arius atau Arianisme.

Para uskup tidak senang dengan apa yang dikatakan Arius dan para pengikutnya tentang natur anak yang terbatas. Mereka tahu apa yang tidak mereka percayai. Namun, bagaimana mereka dapat merumuskan dengan tepat apa yang mereka percayai tentang keilahian Kristus? Jadi, masalah utama di Nicea adalah menentukan bagaimanabukan apakah – Yesus bersifat ilahi.

Apa yang terjadi dalam konsili tersebut dalam menentukan bagaimana Yesus bersifat ilahi? Kita akan mengetahuinya dalam tulisan saya berikutnya....

Minggu, 17 Juni 2012

PENGAKUAN IMAN NICEA (325 M)


Aku percaya akan satu Elohim, Bapa yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.

Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan olehnya.Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita, dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari perawan Maria dan menjadi manusia.Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus, Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; Kerajaan-Nya takkan berakhir.

Aku percaya akan Roh Kudus, Tuhan yang menghidupkan; yang berasal dari Bapa dan Putra, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan. Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, universal dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati, dan kehidupan di dunia yang akan datang. Amin.”

English Version :

We believe in one God the Father Almighty, Maker of heaven and earth, and of all things visible and invisible.


And in one Lord Jesus Christ, the only-begotten Son of God, begotten of the Father before all worlds, God of God, Light of Light, Very God of Very God, begotten, not made, being of one substance with the Father by whom all things were made; who for us men, and for our salvation, came down from heaven, and was incarnate by the Holy Spirit of the Virgin Mary, and was made man, and was crucified also for us under Pontius Pilate. He suffered and was buried, and the third day he rose again according to the Scriptures, and ascended into heaven, and sitteth on the right hand of the Father. And he shall come again with glory to judge both the quick and the dead, whose kingdom shall have no end.


And we believe in the Holy Spirit, the Lord and Giver of Life, who proceedeth from the Father and the Son who with the Father and the Son together is worshipped and glorified, who spoke by the prophets. And we believe one holy catholic and apostolic Church. We acknowledge one baptism for the remission of sins. And we look for the resurrection of the dead, and the life of the world to come. Amen.

Minggu, 03 Juni 2012

Menjawab Tuduhan (Bagian Empat)


Beberapa tahun terakhir ini, sangat banyak sekali buku-buku yang mengkritisi, bahkan menyerang, iman Kristen. Salah satunya adalah tentang kehidupan Yesus. Topik yang dituangkan dalam buku-buku tersebut sangat beragam, mulai dari apakah Yesus pernah mengunjungi India dan belajar tentang konsep Hinduisme atau Buddhisme? apakah Yesus seorang mistikus atau bahkan gnostik? Apakah Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki anak? apakah Yesus berpura-pura mati di kayu salib dan pergi melarikan diri ke Mesir?  Dan apakah Yesus benar-benar hidup dalam suatu masa?

Dari buku-buku tersebut, yang paling mengguncangkan adalah tentu saja novel fiksi karya Dan Brown, Da Vinci Code. Novel ini mencetak penjualan tertinggi di berbagai negara dan mencapai puncaknya ketika Holywood memfilmkan novel tersebut dengan aktor kawakan Tom Hanks. Dan Brown tidak saja mendadak kaya akibat royalti dari novel dan film Da Vinci Code, ia pun menjadi selebritis baru dunia.

Walaupun novel ini masuk dalam kategori fiksi, tetap saja banyak orang yang percaya dongeng Dan Brown tentang kisah hidup Yesus. Ironisnya, banyak orang-orang Kristen yang membaca novel ini menjadi terguncang imannya. Khusus di Indonesia, saya melihat hanya beberapa saja penerbit buku-buku rohani Kristen yang menerbitkan buku-buku sanggahan terhadap novel Dan Brown, dan buku-buku lainnya yang menyerang iman Kristen. Para pendeta di gereja pun jarang membahas tentang buku-buku tersebut.

Tulisan saya kali ini tidak akan membahas seluruh topik yang populer di masa sekarang seperti yang saya sebutkan di atas (kalau memang Tuhan mengijinkan, saya akan mencoba untuk membahasnya di lain kesempatan). Saya akan membahas salah satu topik mengenai keotentikan historitas Yesus. Saya mencoba untuk menuliskan apa yang dikatakan oleh para lawan dari kekristenan dan para Bapa-bapa gereja sebelum masa Konsili Nicea.

Tuduhan : “Yesus mendapat tempat dalam sejarah hanya di Perjanjian Baru dan sama sekali diabaikan oleh banyak sejarawan pada zamanNya, salah satu era yang dinilai paling lengkap tercatat dalam sejarah” ~Acharya S., The Christ Conspiracy, hal. 100

Jawab :

EJEKAN DARI PARA LAWAN KEKRISTENAN

Bagi orang Kristen, Yesus lebih dari sekedar manusia biasa. Ia adalah Tuhan yang sesungguhnya. Tetapi pada masaNya, Yesus hanyalah seorang tukang kayu Yahudi yang tinggal di Nazaret di tanah Palestina, wilayah jajahan kekaisaran Romawi yang jauh dan kumuh. Ia bukan seorang politikus hebat, Ia hanyalah seorang pengkhotbah keliling yang pelayanannya dihabiskan sebagian besar di pesisir pantai Galilea dan hanya sekali-kali pergi ke Yerusalem bersama para muridNya. Saya tidak bermaksud mengejek Yesus. Saya mencintai Yesus. Saya mengakui dengan ketulusan hati bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat. Saya hanya ingin menempatkan bagaimana posisi Yesus dalam bingkai sejarah pada masaNya.

Hal yang lain adalah, bahwa para sejarawan pada masa Yesus berasal dari latar belakang kalangan elit. Biasanya mereka adalah anak pejabat kekaisaran Romawi dan mengenyam pendidikan yang terbaik. Para sejarawan tersebut menganggap remeh dan rendah agama-agama dunia Timur. Konteks bahasan mereka terpusat hanya pada kegemilangan kekaisaran Romawi di masa lalu. Bagi mereka, Yesus hanyalah seorang sofis (filsuf jalanan) yang kehidupannya berakhir tragis di salib. Ya, hanya sebatas itulah pandangan mereka tentang Yesus dan tentu saja tidak akan menarik minat mereka untuk menuliskan kisah Yesus dalam tulisan-tulisan mereka.

Tetapi walaupun begitu, sungguh luar biasa bahwa kita masih bisa menemukan pernyataan mengenai Yesus dari para penulis non – Kristen.

A.     FLAVIUS JOSEPHUS
Nama aslinya adalah Joseph bin Matthias. Ia adalah sejarawan Yahudi kenamaan yang berasal dari keluarga imam. Di tahun 93 M, ia menulis buku sejarah yang monumental, Antiquitates Judaicae atau Jewish Antiquities. Sebuah risalah sejarah yang terdiri dari 20 buku yang melukiskan sejarah bangsa Yahudi, mulai dari penciptaan hingga pecahnya pemberontakan tahun 66-70 M yang diakhiri dengan dihancurkannya Yerusalem oleh pasukan Romawi.

Pernyataan tentang Yesus ada dalam risalah karya Josephus. Dalam buku ke-18 pada bagian Testimonium Flavianum tentang Yesus (Antt. 18, 63-64) berbunyi :

Pada masa inilah muncul Yesus, seorang yang bijaksana, kalau boleh dia disebut manusia. Karena dia adalah seorang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menakjubkan dan seorang guru bagi mereka yang menerima kebenaran yang menyenangkan, dan dia telah memikat banyak orang Yahudi dan orang Yunani. Dia ini adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, atas desakan orang-orang penting di antara kita, telah menghukumnya di kayu salib, mereka yang sejak semula mengasihinya tidak berhenti [mengasihinya] karena pada hari ketiga dia telah menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan hidup kembali. Para nabi Allah telah menubuatkan hal ini dan berbicara tentang aneka hal ajaib tentang dia. Dan klan Kristen, demikian disebut menurut [nama]nya, masih bertahan sampai hari ini.”

Seperti biasa selalu ada orang-orang skeptis yang berusaha untuk menyerang Yesus. Pernyataan Josephus tentang Yesus tersebut juga dicurigai telah ditambahi oleh para penerjemah Kristen. Walaupun begitu mayoritas para ahli sejarah literatur kuno sepakat bahwa risalah monumental Josephus ini adalah benar adanya.


B.     LUCIANUS DARI SAMOSATA
Ia adalah pujangga satir Yunani yang wafat pada tahun 180 M di Athena. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul De Morte Peregrini atau Kematian Peregrinus, Lucianus mencerca umat Kristen saat itu karena pemujaan mereka terhadap Yesus, “yang masih mereka sembah, orang yang disalibkan di Palestina karena memperkenalkan kultus baru ini kepada dunia.” (Lucian, The Passing Peregrinus; dikutip dalam Reinventing Jesus; J. Ed Komoszewski, M. James Sawyer, Daniel B. Wallace; Kregel Publications, Grand Rapids, 2006, hal.  240-241)


C.     CELSUS
Ia adalah filsuf Romawi yang pada tahun 170 M menulis risalah yang mencemooh orang Kristen yang menyembah seorang manusia sebagai Elohim :

“... mereka menyembah seorang manusia yang baru muncul belakangan ini. Mereka menganggap penyembahan kepada Elohim yang Agung konsisten dengan penyembahan kepada hambaNya sebagai Elohim. Penyembahan terhadap Yesus ini lebih parah lagi, karena mereka tidak mau mendengar pembicaraan apapun tentang Elohim, Bapa dari semua orang, kecuali bila Yesus diikutsertakan.” (Celsus, On The True Doctine : A Discourse Against The Christians; dikutip dalam Reinventing Jesus, hal. 241)



D.     PLINY
Ia adalah Gubernur Bitinia (saat ini masuk dalam wilayah Turki) dari tahun 111 sampai 113 M. Pliny tidak menyukai pengaruh Kekristenan yang mempengaruhi bisnis di kuil-kuil agama kafir. Sekitar tahun 112 M, Pliny secara cerdik menulis surat kepada kaisar Trayanus. Ia menulis tentang kehidupan sekte Kristen, “... bertemu secara teratur menjelang fajar pada hari yang ditetapkan untuk mendaraskan ayat-ayat secara bergantian guna menghormati Kristus seolah-olah Dia adalah seorang dewa.” (Pliny, Letters and Panegyricus; dikutip dalam Reinventing Jesus, hal. 243)


E.     MARA BAR SARAPION
Dia adalah seorang filsuf Stoa dari Syria yang menulis surat untuk anaknya Sarapion yang tengah berada dalam penjara Romawi. Dia menasihati anaknya bahwa kebijaksanaan mungkin akan dimusuhi oleh dunia yang penuh dengan kekerasan, namun kebijaksanan itu sendiri abadi. Dia mengilustrasikannya dengan menggambarkan kehidupan Socrates, Phytagoras, dan Yesus – kendati dia tidak menyebut nama-Nya secara eksplisit. Demikian teks selengkapnya:

“Apakah baiknya orang-orang Athena membunuh Socrates, karena perbuatan mereka dibalas dengan kelaparan dan wabah? Apakah faedahnya orang-orang Samian membakar Phytagoras, karena akhirnya negeri mereka seluruhnya terkubur di bawah pasir pada saat itu? Dan apakah manfaatnya orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang bijaksana, karena kerajaan mereka akhirnya direbut dari mereka dari saat itu? Tuhan dengan adil telah membalaskan ketiga orang bijaksana ini. Orang-orang Athena mati oleh kelaparan, orang-orang Samian ditenggelamkan ke laut, dan orang-orang Yahudi disembelih dan dihalau dari kerajaannya, sehingga mereka hidup terpencar dimana-mana. Socrates tidak mati, berterimakasihlah pada Plato; demikian pula Phytagoras, karena patung Hera. Demikian juga sang raja bijasana tidak [mati], karena hukum baru yang ia berikan.”

Mara Bar Serapion yang menulis surat paling awal setelah kehancuran Yerusalem dan kemudian orang-orang Yahudi terpencar (terdiaspora) ke pelbagai tempat, melihat Yesus sebagai seorang raja yang bijaksana. Kemungkinan besar dia mengetahui bahwa saat Yesus disalibkan Pilatus menuliskan keterangan di salib-Nya “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” (INRI), yang tertulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani (Yoh 19:19-20). Demikian pula dia mengenal hukum baru yang dibawa Yesus, bukanlah hukum Taurat, melainkan hukum kasih yang mungkin diketahuinya dari para pengikut Kristus. Tetapi Mara sendiri adalah seorang filsuf kafir.      


F.      CORNELIUS TACITUS
Tacitus adalah seorang sejarawan Romawi yang lahir sekitar 52 – 54 M dan meninggal sekitar 120 M. Pada tahun 112 / 113 M dia menjadi pro konsul / gubernur di Asia. Dia menulis buku Annals yang berisi sejarah kekaisaran Romawi periode 14 M – 68 M. Dalam bukunya Annals volume XV, tentang Kaisar Nero yang telah mengkambinghitamkan orang Kristen sebagai penyebab terbakarnya kota Roma, ia menulis dalam Annals 15.44.2-3 sebagai berikut :

“… Nero dari keaiban oleh karena dituduh telah sengaja menimbulkan kebakaran besar di Roma. Jadi untuk menghentikan desas-desus itu dia mengalihkan tuduhan dengan memfitnah dan menghukum dengan siksaan paling keji terhadap orang-orang yang disebut Kristen, yang dibenci karena kejahatannya, Kristus, dari mana nama ini berasal, yang menderita hukuman yang ekstrem (Dieksekusi) dalam pemerintahan Tiberius, di tangan prokurator kita, Pontius Pilatus, dan sebuah ketidakmasukakalan yang banyak mencelakakan, karena ketika dicek pada waktu itu, meletus lagi tidak hanya di Yudea, sumber pertama kejahatan ini, tetapi bahkan di Roma, dimana segala kengerian dan kebencian dari setiap bagian dunia mendapatkan pusatnya dan menjadi popular.”

Demikian laporan Tacitus, sejarawan Romawi, yang menuturkan situasi pengikut Kristus di kota Roma. Tentang Kristus, Tacitus menyebutkan bahwa dia telah menderita hukuman yang ekstrem pada masa pemerintahan Pontius Pilatus. Tidak disebutkan secara eksplisit cara eksekusinya, namun hukuman salib merupakan cara eksekusi yang lazim pada masa itu bagi pelaku tindakan kriminal dan pemberontakan. Paulus dipenggal kepalanya di Roma karena dia mempunyai kewarganegaraan Romawi.

Demikianlah pernyataan-pernyataan dari beberapa penulis non Kristen yang secara tidak langsung melaporkan bahwa sesungguhnya Yesus benar-benar ada dalam masaNya. Pernyataan-pernyataan ini meneguhkan kesaksian Injil kanonik yang menceritakan kehidupan dan pelayanan Yesus dalam dunia.

Mengenai sumber dari Bapa-bapa gereja akan saya tuliskan dalam edisi berikutnya.




Buku-buku rekomendasi untuk memperkaya bahasan ini :


1. Against Celsus karya Origen (http://www.ccel.org/ccel/schaff/anf04.vi.ix.i.ii.html)


2. Merekayasa Yesus, Craig A. Evans, Penerbit ANDI, 2007 (Fabricating Jesus, Craig A. Evans, InterVarsity Press, 2005) >>> {http://lilinkecil.com/product_info.php?manufacturers_id=21&products_id=434&osCsid=4b737af10ab44012dbcf068004dfb773}

3. Reinventing Jesus; J. Ed Komoszewski, M. James Sawyer, Daniel B. Wallace; Perkantas - Divisi Literatur, 2011 (Reinventing Jesus; J. Ed Komoszewski, M. James Sawyer, Daniel B. Wallace; Kregel Publications, Grand Rapids, 2006) >>> {http://lilinkecil.com/product_info.php?products_id=1293}

Minggu, 27 Mei 2012

Menjawab Tuduhan (Bagian Ketiga)


AKU ADALAH AKU

Terkadang latar belakang Yahudi Yesus sering dilupakan oleh orang-orang Kristen. Potret Yesus kebanyakan sudah terdistorsi dengan semua hal yang berbau barat. Hal yang lain adalah berhubungan dengan perkembangan dunia politik internasional selama 40 tahun terakhir, khususnya di Timur Tengah. Pertikaian antara bangsa Israel dengan tetangga mereka, bangsa Arab dan Palestina, mempengaruhi pandangan orang-orang Kristen akan Yahudi. Berita-berita internasional selalu mengarahkan kamera dan pena mereka kepada Israel yang selalu digambarkan kejam dan tidak berperikemanusiaan kepada bangsa Palestina. Hal ini membuat orang-orang Kristen selalu menghindarkan diri dari kenyataan bahwa Yesus adalah seorang yang lahir dari keluarga Yahudi dan tumbuh besar di antara adat-istiadat dan kebudayaan Yahudi. Orang-orang Kristen takut dicap sebagai antek-antek zionis Israel yang Yahudi. Tetapi tragisnya hal itu malah membuat Yesus semakin jauh dari akar Yahudinya yang tentu saja mengaburkan asal-usul keyahudianNya.

Mengapa saya menyinggung hal ini dalam bahasan saya mengenai Ketuhanan Yesus?

Karena klaim Yesus mengenai keilahian diriNya berhubungan langsung dengan apa yang diyakini dan dipercayai oleh bangsa Yahudi selama ribuan tahun.

Kita akan mencoba untuk mempelajari sebuah perkataan Yesus, di mana sebanyak 30 kali, Rasul Yohanes, menuliskannya dalam Injilnya, Yohanes. Perkataan tersebut adalah “EGO EIMI”, dalam bahasa Yunani atau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “I AM” dan “AKU adalah” atau “AKULAH” dalam bahasa Indonesia.

Menurut beberapa sumber kuno, Rasul Yohanes, di masa tuanya ketika tinggal di Efesus, diminta oleh para penatua di Asia untuk menuliskan “Injil yang rohani” ini untuk menyangkal suatu ajaran sesat mengenai sifat, kepribadian, dan keilahian Yesus yang dipimpin oleh seorang Yahudi yang bernama Cerinthus. (Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Gandum Mas, 2002, hal. 1695)

Sekali lagi tulisan dari Ajith Fernando dalam bukunya Supremasi Kristus menjelaskan perkataan “EGO EIMI” dengan baik.

Ajith Fernando menulis, ”Dalam bahasa Yunani, akhiran verba beragam menurut subjeknya. Hal ini jarang terjadi dalam bahasa Inggris dan juga bahasa Indonesia, tetapi kata “am” adalah salah satunya. Saat anda melihat kata “am”, anda tahu pasti subjeknya “I”. Hal ini selalu terjadi dalam bahasa Yunani. Tetapi dalam bahasa Yunani, penggunaan subyek dalam kalimat bukan keharusan jika subyek tersebut sebuah pronomina (kata ganti orang) seperti “I” atau “he” atau “we”. Sehingga kalimat seperti “I am the bread” cukup dikatakan “Am the bread” dalam bahasa Yunaninya. Tetapi jika anda memberikan penekanan tentang subyeknya, barulah anda menggunakan kata ganti tersebut. Yohanes melakukan hal ini sebanyak 30 kali dalam pernyataan “I AM”-nya Yesus. Kita bisa mengatakan bahwa Yohanes melakukannya untuk memberikan penekanan khusus.” (Supremasi Kristus, hal 36)

Inilah mengapa kita tidak hanya membaca Alkitab dalam bahasa terjemahan (dalam hal ini bahasa Indonesia), tetapi juga harus membaca dan mempelajari Alkitab dalam bahasa aslinya. Dalam hal ini, Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani dan sebagian Aram, sedangkan Perjanjian Baru adalah dalam bahasa Yunani. Injil Yohanes yang merupakan bagian dari kitab dalam Perjanjian Baru menggunakan bahasa Yunani. Dari sana kita bisa mengerti bahwa ada maksud yang dituju oleh penulis dari Injil Yohanes mengenai keilahian Yesus, khususnya pelajaran mengenai perkataan “EGO EIMI”, yakni bahwa Yohanes melakukannya untuk memberikan penekanan khusus terhadap pribadi Yesus.

Lebih lanjut Ajith menulis, “Dalam versi terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani atau lebih dikenal dengan Septuaginta, yang sangat populer di abad pertama, saat para penerjemah sampai kepada kata-kata untuk Elohim, “mereka kelihatannya berpikir bahwa kata-kata itu harus diterjemahkan berbeda dari kata-kata untuk manusia.” Sehingga “mereka cenderung menggunakan bentuk penegasan dengan kata ganti “I” (Leon Morris, Reflection on The Gospel of John, vol. 2, Grand Rapids, 1987).” (Supremasi Kristus, hal. 37)

Sebelum lebih jauh, saya akan mengajak anda untuk melihat di dalam kitab Keluaran pada pasalnya yang ke-3. Pada pasal ini Musa bertemu dengan Tuhan di gunung Horeb ketika menggembalakan kambing dan domba mertuanya, Yitro. Tuhan hendak mengutus Musa ke Mesir sebagai alatNya untuk membawa keluar bangsa Israel dari perbudakan. Musa menanyakan nama Tuhan sebagai antisipasi kalau-kalau orang Israel menanyakan siapa nama Tuhan yang mengutus dirinya. Tuhan menjawab, “AKU adalah AKU. Lagi firmanNya : “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu : “AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (Keluaran 3:14)

Dalam terjemahan Indonesia kita tidak akan melihat dengan jelas. Oleh karenanya saya akan menampilkan bahasa asli dari ayat tersebut dan juga dalam bahasa Yunani (Septuaginta) :

Ibrani :

“VAYOMER {dan Dia berfirman} ‘ELOHIM {Elohim} ‘EL – MOSYEH {kepada Musa} ‘EHEYEH {Aku akan ada} ‘ASYER {yang} ‘EHEYEH {Aku akan ada} VAYO’MER {dan Dia berfirman} KOH {demikian} TO’MAR {engkau harus berkata} LIVENEY {kepada anak-anak} YISERA’EL {Israel} ‘EHEYEH (Aku akan ada} SYELAKHANI {mengutus aku} ‘ALEYKHEM {ke atas kalian}”

Yunani (Septuaginta) :

“KAI EIPEN HO THEOS MOUSEN EGO EIMI HO ON KAI EIPEN AUTOS EREIS TOIS HUIOIS ISRAEL HO ON APESTALKEN ME PROS HUMAS”

Dari Keluaran 3:14 kita dapat mengetahui bahwa inilah nama Tuhan yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri kepada Musa, yaitu : EHEYEH atau oleh para penerjemah PL Ibrani ke bahasa Yunani (Septuaginta) adalah EGO EIMI.

Kita akan melihat beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris :

King James Version (KJV) :
And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.

New International Version (NIV) :
God said to Moses, “I am who I am”. This is what you are to say to the Israelites: ‘I am’ has sent me to you.’”

English Revised Version :
And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.

Kita akan masuk pada pernyataan AKU-nya Yesus dalam Injil Yohanes. Saya akan mengambil satu contoh saja.

Yohanes 6:35 =

“Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

KJV : “And Jesus said unto them, I am the bread of life: he that cometh to me shall never hunger; and he that believeth on me shall never thirst.”

Kita lihat dalam terjemahan aslinya :
“Eipen autois ho Iesous EGO EIMI ho arthos tes zoes....”

Kita dapat melihat bahwa Yohanes menggunakan frasa EGO EIMI yang di mana frasa tersebut dipakai sebagai padanan kata dari EHEYEH dalam bahasa Ibrani yang menunjuk kepada nama Tuhan sendiri.

Setelah melihat dari terjemahan asli dalam bahasa Ibrani dan beberapa terjemahan lainnya, kita sampai pada kesimpulan bahwa saat “Yohanes menuliskan pernyataan Yesus dengan pronomina yang bersifat penekanan, dia sedang menggunakan ‘gaya bahasa yang menunjukkan Elohim’. Inilah salah satu cara dari Yohanes untuk menunjukkan bahwa Yesus lebih dari sekedar manusia biasa. Yohanes menunjukkan bahwa kata-kata untuk Elohim pantas untuk Yesus.” (Supremasi Kristus, hal. 37)

Satu hal terakhir yang saya mau ungkapkan di dalam tulisan kali ini adalah salah satu perbincangan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi di dalam Bait Elohim.

Yohanes 8 :57,58 =

Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?"

Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, AKU telah ada."

Dalam terjemahan Yunaninya pada ayat yang ke-58 :

Eipen autois Iesous Amen amen lego hymin prin Abraam genesthai EGO EIMI

KJV : Jesus said unto them, Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I AM.

Bagi orang-orang yang tidak paham dengan keyakinan orang Yahudi, maka perkataan Yesus tersebut tidak ada pengaruhnya. Tetapi pada masa Yesus, perkataan tersebut sangatlah kontroversial. Orang-orang Yahudi langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Yesus sehingga mereka langsung mengambil batu untuk melempari Yesus (Yohanes 8:59). Perkataan itu berarti bukan saja pada waktu Abraham ada, Yesus ada; tetapi sebelum Abraham ada, Yesus sudah ada dan sesudah Abraham tidak ada, Yesus tetap ada. Itu sebab Yohanes memakai perbedaan tenses di sini, “Before Abraham was, I AM.” Singkatnya, Yesus menyatakan diri sebagai Elohim yang sudah bereksistensi dari dulu, sekarang dan selama-lamanya. Perkataan itu terkait langsung dengan perkataan Tuhan kepada Musa dalam Keluaran 3:14 = EHEYEH ASYER EHEYEH, EGO EIMI HO ON, I AM THAT I AM, AKU adalah AKU. Kalimat ini menyatakan bahwa Elohim itu adalah Elohim yang kekal, yang sudah ada dari dulu, sekarang dan selama-lamanya, Elohim yang menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Orang Yahudi sangat mengerti bahwa kata “I AMhanya bisa diberikan kepada Tuhan Elohim sendiri dan kata itu sekarang dipakai oleh Tuhan Yesus langsung, “Jesus said unto them, Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I AM.”

Setelah anda membaca tulisan ini dan dua tulisan sebelumnya, sudahkah anda menetapkan hati anda untuk mengakui dan menerima dengan sungguh-sungguh bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat? Jikalau belum, sekaranglah waktu yang tepat untuk anda untuk menyatakan pengakuan iman anda kepada Tuhan Yesus. Anda tidak tahu kapan anda akan meninggalkan dunia ini. Tidak akan ada kesempatan kedua atau ketiga atau seterusnya setelah anda meninggalkan dunia ini. 

Yoel 2:32 
Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan

Roma 10:9
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.




Link-link untuk mempelajari Alkitab dari berbagai terjemahan :



Minggu, 20 Mei 2012

Menjawab Tuduhan (Bagian kedua)

Tuduhan “Oke, empat kitab Injil memang menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah menolak atau melarang orang-orang untuk datang menyembahNya. Tapi itu bukan berarti bahwa Yesus adalah Tuhan.”


JawabApabila kita membaca empat kitab Injil dengan seksama maka para penulis Injil-injil tersebut menegaskan keilahian Yesus.

Saya akan mencoba mengambil dari perspektif pengajaran dan perkataan Yesus sendiri. Dalam hal ini saya berhutang banyak kepada tulisan Ajith Fernando, penginjil sekaligus apologet Kristen berkebangsaan Srilanka, yang bersama-sama dengan istrinya memfokuskan pelayanannya kepada para penganut Buddhisme. Apa yang saya tuliskan berikut ini saya kutip dari bukunya yang luar biasa yang berjudul The Supremacy of Christ (Terjemahan Indonesia : Supremasi Kristus, Penerbit MomentumSurabaya, hal. 33-36, 2008).

Yesus berbicara dengan otoritas yang besar. Pada Matius 28:18, Yesus berkata :”KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” Pada kesempatan lain Yesus berkata,”Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.” (Matius 24:35). Ajith mengutip perkataan R.T. France, “Setiap guru Yahudi memastikan pengajarannya terdokumentasi dengan sejumlah besar kutipan dari kitab suci dan nama-nama gurunya untuk menambah bobot pendapatnya; otoritasnya sendiri merupakan otoritas sekunder. Tetapi Yesus tidaklah demikian. Dia begitu saja mengabaikan hukum itu”. Yesus tidak berkata,”Kitab suci mengatakan...” atau “Rabi X menyatakan ....” Sebaliknya Yesus berkata, “ Aku berkata ....”

Pengajaran Yesus pada khotbah di bukit menunjukkan dengan lantang hal tersebut. Setelah mengajarkan pengajaran Ucapan Berbahagia, Yesus melanjutkannya dengan tema hukum Taurat. Dalam Matius 5:21-22, Yesus berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita : Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu : setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya : Kafir! Harus dihadapkan kepada Mahkamah Agama dan siapa yang berkata : jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”

Selanjutnya di dalam ayat-ayat berikutnya dalam pasal tersebut di atas terdapat 5 pernyataan sejenis yang mengikuti formula yang sama : “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyan kita : ..... (kutipan dari Perjanjian Lama).” Dan kemudian diikuti oleh : “Tetapi aku berkata kepadamu : ...... (modifikasi terhadap prinsip Perjanjian Lama).”

Yesus mengklaim memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Saat Yesus mengampuni dosa seorang yang lumpuh (Markus 2:5) dan orang mempertanyakan hak-Nya melakukan itu (mengampuni dosa), Ia membuktikannya dengan melakukan mukjizat. “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia mengampuni dosa. Kepadamu Kukatakan, bangunlah dan angkatlah tempat tidurmu dan pulang ke rumahmu! Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu....” –Markus 2:10-12

Dalam Injil Lukas, dikisahkan suatu ketika Yesus datang memenuhi undangan dari seorang Farisi untuk makan di rumahnya. Di kota tersebut ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Perempuan tersebut mengetahui bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi di kota itu. Ia pun mendatangi rumah tersebut dan membasuh kaki Yesus dengan air mata dan menyeka dengan rambutnya. Yesus yang melihat hal ini berkata kepada perempuan tersebut, “Dosamu telah diampuni.” (Lukas 7:36-50)

Yesus tidak hanya mengatakan, ”Ikutlah ajaranKu” – Dia berkata, ”Ikutlah Aku” dan menuntut ketaatan penuh. Dalam Matius 10:37-38, Yesus berkata,”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaKu, ia tidak layak bagiKu. Barangsiapa tidak memikul salibNya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu (lihat juga dalam Lukas 14:26,27).

Yesus mengambil gelar yang diberikan bagi Elohim dalam Perjanjian Lama. Mazmur 27:1 berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku.” (lihat juga dalam Yesaya 60:20). Yesus berkata, “Akulah terang dunia.” (Yohanes 8:12). Mazmur 23:1 berkata, “TUHAN adalah gembalaku” (lihat juga dalam Yehezkiel 34:15). Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik” (Yohanes 10:11).

Yesus melihat diriNya layak menerima kehormatan yang hanya diberikan kepada Elohim. Yesaya 42:8 berkata, “Aku ini TUHAN, itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain atau kemasyhuranKu kepada patung” (lihat juga Yesaya 48:11). Yesus berdoa, “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau... Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yohanes 17:1,5). Yesus berkata, “Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.” (Yohanes 5:22-23). Dalam Injil Matius, Yesus berkata juga, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Matius 16:27).

Yesus menyatakan memiliki hubungan Bapa-Anak yang unik dengan Elohim. Ia menyebut diriNya Anak Elohim, dan menyebut Elohim “BapaKu”. Penyebutan “BapaKu” bukan cara yang biasa yang digunakan oleh orang Yahudi dalam memanggil Elohim. Mereka memang menyebut “Bapa kami”, walaupun dalam menggunakan kata “Bapaku” dalam doa, biasanya mereka memberi tambahan seperti “di dalam surga” untuk menghilangkan kesan kekeluargaan. Yesus tidak melakukan hal itu. Dalam kitab-kitab Injil, Yesus malah ingin menegaskan bahwa diriNya memiliki hubungan yang unik dengan Elohim yang tidak mungkin dimiliki manusia. Saat Yesus meredakan badai dan para murid menjadi tahu bahwa Dia bukan manusia biasa, mereka “menyembah Dia”. Mereka mencapai kesimpulan, “Sesungguhnya Engkau Anak Elohim.” (Matius 14:33).

Yesus menyatakan diri sebagai hakim atas umat manusia. Yesus berkata, “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaanNya” (Matius 25:31). Dalam ayat 32-46, Yesus menjelaskan bagaimana Dia akan menghakimi bangsa-bangsa. Mengenai diriNya, Yesus berkata, “Ia (Bapa) telah memberikan kuasa kepadaNya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Elohim” (Yohanes 5:27). Leon Morris, seorang ahli Perjanjian Baru, menyatakan, “Jika Yesus bukan Elohim, pernyataan ini sama sekali tidak berdasar.” Lebih lanjut Morris berkata, “Tidak ada satu makhluk pun yang dapat menentukan nasib kekal sesamanya.” (The Lord from Heaven, Leicester dan Downers Grove, III : InterVarsity Press, 1974, 36).

Yesus menyatakan bahwa nasib kekal manusia tergantung pada hubungan mereka denganNya. Ia berkata, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:35-37).

Yesus menyatakan bahwa Dia bisa memberikan kepada kita hal-hal yang hanya bisa diberikan oleh Elohim. Yesus berkata, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya (Yohanes 5:21; Yohanes 11:25). Dia berkata akan memberikan “mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14). Dia berkata akan memberikan “Damai sejahteraKu” (Yohanes 14:27) dan “sukacitaKu” (Yohanes 15:11). Di dalam pernyataan “Akulah” dalam Injil Yohanes, kita menemukan Yesus berkata bahwa Ia akan memberikan roti kehidupan (Yohanes 6:35), terang kehidupan (Yohanes 8:12), dan topangan untuk menghasilkan buah (Yohanes 15:1-8). Yesus mengatakan bahwa Dia adalah pintu menuju keselamatan (Yohanes 10:7-9) dan jalan menuju keselamatan (Yohanes 14:6) dan hidup yang mengalahkan kematian (Yohanes 11:25,26).

Ajith Fernando dalam bukunya tersebut juga menyatakan, “Apa yang Yesus katakan tidak akan berani dikatakan oleh manusia biasa yang waras.”

C.S. Lewis pun pernah menyatakan hal tersebut mengenai perkataan dan pengajaran Yesus. Ia menulis, “Di sini saya sedang berusaha untuk mencegah siapapun mengatakan hal yang benar-benar bodoh yang seringkali dikatakan orang tentang diri-Nya: “Saya siap menerima Yesus sebagai seorang guru moral yang agung, tetapi saya tidak menerima klaim-Nya bahwa Ia adalah Elohim.” Itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya kita katakan. Jika ada seorang manusia biasa yang mengatakan hal-hal seperti yang Yesus katakan, orang itu tidak akan bisa menjadi seorang guru moral yang agung. Ia entah akan menjadi seorang yang sinting – yang setara dengan seorang yang mengatakan bahwa ia adalah telur yang ditim – atau sebaliknya, ia akan menjadi sang iblis dari neraka. Anda harus menentukan pilihan anda. Entah orang ini dulu dan sekarang adalah Putra Elohim atau orang gila dan bahkan lebih buruk lagi. Anda bisa membungkamnya sebagai orang yang bodoh, anda bisa meludahiNya dan membunuhNya sebagai roh jahat; atau anda bisa tersungkur di kaki-Nya dan menyebut-Nya Tuhan dan Elohim. Tetapi hendaklah kita tidak menciptakan omong kosong apapun yang merendahkan tentang keberadaan-Nya, bahwa Ia adalah seorang manusia yang agung. Ia tidak memberikan kemungkinan itu kepada kita. Ia tidak bermaksud demikian.” (Mere Christianity, Pionir Jaya, 2007, 87).

Dalam artikel berikutnya, saya akan menuliskan penjelasan tentang perkataan "I Am"-Nya Tuhan Yesus yang akan menegaskan bahwa Yesus Kristus bukanlah sekadar manusia biasa.