Kamis, 21 Oktober 2010

The Orphanage (2007)

The Orphanage


Director : Juan Antonio Bayona
Writter : Sergio Sanchez


Cast :
Belen Rueda : Laura
Fernando Cayo : Carlos

Roger Princep : Simon


Story :
Laura (Belen Rueda) datang kembali ke tempat di mana ia pernah dibesarkan sebagai seorang anak yatim piatu. Ia datang bersama suaminya, Carlos ( Fernando Cayo) dan seorang anak laki2 angkat, Simon (Roger Princep). Laura dan suaminya sepakat untuk memperbaiki bekas panti asuhan tersebut menjadi rumah bagi anak2 yang mengalami keterbelakangan mental. Selagi mempersiapkan rumah tersebut, Simon mengaku ia menjalin persahabatan dg seorang sahabat fantasi yang bernama Tomas (Oscar Casas). Laura dan Carlos menganggap hal tersebut adalah biasa bagi seorang anak2 seperti Simon.

Suatu ketika, Laura kedatangan seorang tamu bernama Benigna (Montserrat Carulla). Benigna mengaku sebagai seorang pekerja sosial yang datang untuk memberitahukan informasi rahasia mengenai anak angkat Laura, Simon. Dalam sebuah dokumen, Benigna menunjukkan bhw Simon positif HIV. Walaupun Laura yang menyadari bhw SImon membutuhkan obat2an tp ia tidak mempedulikan hal tsb. Ia mengusir Benigna. Selepas kedatangan Benigna itulah dimulai serangkai gangguan2 supranatural yang berujung pd hilangnya Simon tepat pd hari acara pembukaan Rumah bagi anak2 keterbelakangan mental.


Review :

Walaupun disutradarai oleh Juan Bayona, The Orphanage sangat kental unsur Del Torro-nya. Nuansa fantasi namun dibalut dg aroma gelap yg mempengaruhi emosi penonton. Walaupun tanpa unsur penampakan makhluk2 menyeramkan atau suara musik yang menghentak, Bayona tetap mampu menghadirkan nuansa seram bagi penonton.

Satu per satu kita diajak oleh Bayona utk memecahkan misteri hilangnya Simon melalui petunjuk2 yang diselipkan bayona dalam setiap scenenya. Alhasil film ini sedikit mencontek apa yang sudah dilakukan Del Torro dalam Pan's Labyrinth, yaitu mengambil unsur fantasi tp dibalut nuansa sendu. Belen Rueda berhasil dengan baik memerankan seorang ibu yang bnar2 mengasihi anaknya sehingga apapun ia lakukan agar dapat menemukan Simon. Roger Princep yang memerankan suami Laura yang berprofesi dokter pun bermain baik. Montserrat Carula sebagai Benigna walaupun hadir dalam 3 scene tp cukup membawa nuansa menakutkan bagi keseluruhan film ini.

Tetapi walaupun ini adalah film Thriller/Ghost Story, Bayona seakan hendak menyampaikan pesan bahwa kasih ibu adalah sepanjang masa bagi anak2nya sehingga sang ibu sanggup melakukan hal2 di luar batas2 logika manusia agar dapat menyenangkan anaknya. Dan pesan ini sangat nyata terlihat pada ending film ini. Ya, memang ending film ini sangat tragis tetapi sekaligus menjadi ending yang membahagiakan, setidaknya bagi saya dan mungkin anda......

8/10

Felon (2008)

Felon

Director : Ric Roman Waugh
Writter : Ric Roman Waugh

Cast :

Stephen Dorff : Wade Porter
Val Kilmer : John Smith
Sam Shepard : Gordon

Story :

Wade Porter (Stephen Dorf), seorang pria yang memiliki usaha sendiri dan beberapa bulan ke depan akan menikahi kekasihnya, Laura Porter. Kehidupannya begitu menyenangkan hingga di suatu malam seorang pria asing masuk ke rumahnya. Wade mengejar pria asing itu hingga ke luar rumah dan memukul pria tsb dg tongkat baseball tepat di kepalanya. Pria asing tsb tewas di tempat. Polisi datang dan menangkap Wade, walaupun Wade mengaku bahwa ini adalah tindakan pembelaan diri, tetapi polisi tidak pduli karena nyatanya si pria asing tsb sdh keluar rumah.

Di pengadilan pun akhirnya Wade mengaku bersalah utk menghindar dari hukuman yg lebih berat. Ia masuk ke penjara, tetapi naasnya ia tidak sengaja terlibat penyerangan salah satu tahanan. Ia pun akhirnya masuk ke dalam sebuah bagian penjara khusus yang menampung tahanan2 yang berbahaya. Di tempat inilah Wade harus berjuang setiap harinya agar bisa selamat dari ganasnya tempat tsb sekaligus melawan kesewenang-wenangan sipir penjara.


Review :

Gw beli film ini karena review yang cukup bagus dari forum sebelah. Dan memang Felon berhasil menghadirkan suguhan film bernuansa penjara yang cukup realistis.

Akting dari Dorf dan Val Kilmer bnar2 luar biasa menurut gw. Dorf sebagai seorang pria baik2 bisa memerankan kegalauan, kesedihan, ketakutan dan akhirnya menjadi bengis secara meyakinkan. Begitu juga dengan Kilmer. Ia berhasil memerankan dg baik seorang tahanan yang kejam tetapi bisa menjadi "mentor" yang baik bagi Wade.

Mll Felon kita bisa tahu bahwa di dalam penjara bukan berbicara mengenai geng atau kelompok, tetapi lebih daripada itu adalah isu rasial. Dalam Felon kita diperkenalkan berbagai kelompok ras, misalnya Aryan Brotherhood yang anggota2nya adalah kulit putih, kelompok Hispanic Latin, kelompok campuran Negro dan Asia. Semua berkumpul satu dengan yg lain dalam satu tempat dan bersaing satu dengan yg lainnya utk menujukkan kekuasaan mereka.

Suka tidak suka, rela tidak rela harus memilih utk masuk ke dalam kelompok yg mana. Karena dengan kelompok lah mereka bisa survive. Kita juga bisa melihat ttg arti pentingnya sebuah kekeluargaan dan tentunya loyalitas. Apabila salah satu tsb dikhianati, maka tidak ada ampun.

Denger2 niy film berdasarkan kejadian yang terjadi di salah satu penjara terkejam di AS, California State Prison, pada tahun 1990an.

gw quote salah satu tulisan dalam film Felon yg jd bahan perenungan kita :

"Usually I'm quoting someone else's words. The least I can do is give you some John Smith originals. They won't be poetic. But they'll be the truth. Yes, prison desensitizes you. But it also forces you to see what's most important. Family. And loyalty. Because a con like you knows neither exists in this place. So don't run from who you've become, felon. Embrace it. Grow from it. And you'll never lose sight of what truly matters. That's my final piece of advice, Wade Porter. You protect your family at all costs. Even if you're forced to kill again. Because if i had to, I’d wipe out the whole planet to get mine back. So long, friend."

7.8/10

Invictus (2009)

Invictus


Director : Clint Eastwood
Writter : Anthony Peckham & John Carlin


Cast :

Morgan Freeman : Nelson Mandela

Matt Damon : Francois Pienaar


Story :

Dekade 90an merupakan masa paling genting dalam sejarah keberadaan Afrika Selatan. Di masa ini, seorang aktivis politik berpengaruh yang menghabiskan 30 tahun masa hidupnya di balik jeruji penjara, Nelson Mandela, naik ke tampuk kekuasaan Afrika Selatan. Naiknya Mandela berarti mengakhiri masa kekuasaan pemerintahan Apartheid yang kejam dan brutal.

Tetapi Mandela segera dihadapkan pada berbagai macam persoalan penting. Kesejahteraan yang buruk, tingkat kriminalitas yang tinggi dan yg paling penting adalah rentannya persatuan dan kesatuan masyarakat Afsel (antara kulit putih dan hitam). Mandela sadar bhw tanpa memperbaiki masalah persatuan dan kesatuan, mustahil utk mencapai tujuan2 lain utk membangun kembali Afsel. Banyak macam yg dilakukan oleh Mandela utk menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsanya, salah satunya adalah tetap mendukung tim rugby terkenal di Afsel, Springboks. Masalahnya Springboks adalah tim yang mulai dari seragam, manajemen dan anggota2 timnya dianggap oleh masyarakat kulit hitam Afsel adl simbol Apartheid itu sendiri. Tetapi Mandela tetap pada keyakinannya mendukung sepenuhnya tim ini dengan resiko kehilangan simpati dan dukungan dari pemilih mayoritasnya ketika pemilihan presiden lalu, yakni masyarakat kulit hitam Afsel....


Review :

Invictus adalah sebuah biopic berdasarkan buku laris John Carlin yang berjudul Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation. Buku itu menceritakan sepak terjang Mandela selama masa Piala Dunia rugby di Afsel. Invictus sendiri adalah diambil dari sebuah judul puisi terkenal karya William Ernest Henley, dimana puisi ini menjadi semacam "kekuatan spiritual" buat Nelson Mandela selama masa2 sulitnya di penjara di pulau berbatu, Robben Island. Puisi inilah yang dia tulis kembali utk timnas rugby Afsel sebagai tanda dukungan penuhnya.

Invictus adalah film yang saya berani bilang adalah film yang begitu inspiratif. Film yang menyentuh hati nurani kita akan pentingnya pengampunan dan melupakan kesalahan orang lain serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok atau pribadi. Seperti yang dibilang Mandela dalam film ini : "Forgiveness liberates the soul. It removes fear. That is why it is such a powerful weapon." Atau mengenai masa depan karir pilitiknya, ketika idenya utk mendukung tim rugby Afsel ditentang keras oleh asisten pribadinya :

Brenda Mazibuko : "You're risking your political capital, you're risking your future as our leader"

Mandela : The day I am afraid to do that is the day I am no longer fit to lead.

Satu kelebihan lagi dr film ini adalah, aktor ataupun aktris di dalamnya tidak melebih2kan peran mereka masing. Mereka menjalankan peran mereka apa adanya. Inilah yang membuat film ini berjalan natural, tak ada unsur2 lebay khas film2 holiwut.

Film ini seharusnya ditonton oleh para anggota dewan kita yg terhormat agar bekerja bukan karena kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Film ini harus ditonton oleh para pemuka agama kita, dimana seharusnya kesatuan dan persatuan harus tetap dipegang teguh oleh anak2 bangsa.

Film ini harus ditonton oleh para pejabat kita, di mana seharusnya mereka bekerja bukan atas dasar melayani segelintir kelompok tetapi atas dasar kepentingan rakyat banyak.

dan yg paling penting, film ini harus ditonton oleh Presiden bangsa ini agar ia ketika menjalankan pemerintahan ini dengan tidak hanya "curhat", hanya meratapi nasibnya yg selalu dihina oleh para demonstran tetapi harus berani mengambil sikap dan keputusan serta tetap fokus pada tujuan pemerintahannya. Tentunya keputusan dan sikap yg tujuannya utk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat bangsa ini.

9/10

Confucius (2010)

Confucius


Director : Mei Hu

Cast :
Chow Yun Fat : Kong Qiu
Zhou Xun : Nan Zi

Lu Yao : Lu Zun


Story :

Setelah berhasil memimpin dengan baik suatu kota di wilayah kerajaan Lu, Kong Qiu atau lebih dikenal Confucius, dipromosikan menjadi menjadi Menteri Hukum oleh penguasa Lu saat itu, Duke Ding. Ketika menjabat Menteri Hukum, Kong Qiu sukses mengembalikan tiga buah kota Lu yang diambil oleh kerajaan Qi 30 tahun sebelumnya tanpa berperang. Misinya juga adalah utk mengurangi peran para bangsawan yang menguasai kerajaan Lu saat itu dan juga hampir sebagian besar kerajaan2 di China saat itu. Ia cukup berhasil hingga dipromosikan menjadi Perdana Menteri Lu.

Tetapi lewat sebuah intrik kotor, Kong Qiu dipaksa meletakkan jabatannya dan menjalani pengasingan. Murid2nya yakni, Yan Hui, Zigong, Zilu, Ran Qiu, dll setia menemani Kong Qiu melintasi berbagai wilayah utk menyebarkan pengajaran2nya. Dalam pengembaraan bersama murid2nya inilah Kong Qiu didera oleh berbagai kesulitan dan marabahaya.

Pada tahun 484 SM, penguasa Lu yang baru, mengundang Kong Qiu untuk pulang ke Lu. Hal ini dilakukan karena situasi politik di Lu yang memanas. Apakah Kong Qiu sanggup mengampuni dan mau kembali ke tanah kelahirannya?


Review :

Gw mengenal Confucius dan pengajarannya ketika jaman kuliah dl. Lelah mempelajari konsep pemerintahan Hegel, Montesqiue dkk-nya, gw iseng2 mempelajari konsep demokrasi zaman China kuno. Dari sanalah gw berkenalan dengan Confucius. Jujur aj, ketimbang filsuf2 tata negara yg njilimet dan terlalu kaku, pengajajaran Confucius ttg konsep pemerintahan yang adil sangatlah sederhana.

Ok, kita kupas satu per satu filmnya.

Akting : menurut gw ada beberapa karakter yang mendapat porsi lebih dalam film ini. Kong Qiu, Duke Ding, Nanzhi, Yan Hui dan Zilu. Mengenai Kong Qiu yang diperankan oleh Chow Yun Fat, niy orang bner2 menghayati perannya sebagai orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah China. Mulai dari ekpresi ketegasan, kemarahan, kesedihan dan tangisan semuanya berhasil dijalankan dengan baik oleh Chow.

Duke Ding, diperankan dengan baik. Kita bisa melihat ekspresinya yg bodoh tetapi semuanya hanyalah topeng yang digunakan untuk mengamankan kekuasaannya.

Nanzhi, karakter ini diperankan dengan baik juga. Kita bisa merasakan kepintarannya yang sangguo mengendalikan roda pemerintahan Wei walaupun ia hanyallah seorang permaisuri.

Yan Hui dan Zilu, dua orang murid kesayangan Kong Qiu juga diperankan dengan baik. Yan Hui yang cerdas tetapi sabar dan rendah hati, sedangkan Zilu adalah seorang yang berangasan tetapi memiliki hati yang baik.

Mengenai setting film ini pun digarap dengan cukup baik. Kota2nya dibuat serealis mungkin. Salah satu minusnya mungkin adalah penggunaan teknologi CGI-nya yg masih kasar. Tetapi menurut gw tidak mengurangi kenikmatan dalam menonton film ini.

Melalui Confucius, kita banyak disadarkan ttg arti keadilan, kebenaran dan kesetiaan. Di tengah2 dunia yang mengutamakan popularitas, kekuasaan dan harta, nasihat2 Confucius seperti oasis di padang gurun. Yeap, banyak yang mengatakan ini adalah film propaganda pemerintah China, dan gw pun merasakan hal itu. Tetapi gw ga peduli dengan semuanya itu, Confucius adalah film yg bisa membuat rasa nasionalisme kita tumbuh kembali.

Satu2nya yg minus dari film ini adalah durasinya, 2 jam lebih sedikit kayaknya ga cukup buat film yg inspiratif ini...

7.5/10

Hachiko Monogatari (1987)

Hachiko Monogatari


Director : Seijiro Koyama
Writter : Kaneto Shindo


Story :

Kisah nyata seekor anjing jenis Akita yang bernama Hachi. Hachi dipelihara oleh seorang profesor yang bernama Eisaburo Ueno. Hachi diadopsi oleh keluarga sang profesor. Singkat cerita, Hachi menjadi anjing kesayangan sang profesor. Saking dekatnya, Hachi selalu menemani sang profesor ketika berangkat mengajar dan juga setia menanti kepulangan sang profesor di stasiun Shibuya, Jepang.

Suatu ketika, sang profesor meninggal dunia. Hachi yang tidak mengerti hal ini tetap setia menunggu kepulangan sang profesor di depan stasiun Shibuya, Jepang. Selama 9 tahun Hachi dg setia menunggu kepulangan sang profesor walaupun sang profesor sesungguhnya sudah lama meninggal.

review :

Ini salah satu melodrama terbaik yang pernah gw tonton. Kelebihan dari film ini adalah suasananya terbangun seperti apa adanya, tidak dilebih2kan. Patut diacungi jempol pemeran anjing Hachi. Jujur kalau ada Oscar utk kategori bin(a)tang terbaik, pemeran Hachi layak utk mendapatkan penghargaan tsb.

Menonton film ini terasa menegur hati nurani kita, apakah kesetiaan sejati msh ada dalam nurani kita. Entah itu thd keluarga, pasangan ataupun sahabat.

Well, tontonlah film ini bersama keluarga, pasangan anda atau sahabat anda. Kalau anda memiliki binatang peliharaan, bawalah mereka bersama anda utk menonton filn ini. Kalau anda pencinta binatang anda akan tertawan oleh film ini sejak menit pertama. Kalau anda bukan pecinta binatang, mungkin akan anda menjadi pecinta binatang sehabis menonton film yang menggugah ini.

8/10

Salvador ( 1986 )

Salvador (1986)


Director : Oliver Stone

Writter : Oliver Stone & Rick Boyle


Cast :

James Wood : Richard Boyle

James Belushi : Doctor Rock

John Savage : John Cassady



Story :

Seorang jurnalis, Richard Boyle bersama seorang rekannya, pergi ke Salvador, sebuah negara kecil di belahan Amerika Selatan yang sedang dalam kekacauan politik yang parah pada tahun 1980-an.

Pada awalnya, Boyle pergi ke Salvador utk merubah peruntungannya yang buruk di Amerika Serikat. Tetapi setelah melihat bagaimana situasi politik di Salvador ditambah bahwa dirinya mencintai pacar Salvadornya, Maria, membuat ia sadar bahwa keadaan di Salvador jauh lebih buruk dari perkiraannya.


Review :

Film ini boleh dibilang adalah film "debutan" Oliver Stone utk film2 kontroversi karyanya yg lain seperti, Platoon dan Born Of The 4th Of July. Dalam film ini, dan juga film2 ia lainnya, Stone menyoroti peran militer AS di negara kecil Salvador. Berlatar belakang situasi perang dingin, terlihat bagaimana militer AS berjuang memblokade pengaruh komunis dengan cara mendukung pemerintah militer yang ada. Tetapi yang lebih mirisnya adalah bagaimana AS menutup mata terhadap pembunuhan Uskup Agung Romero yang kritis terhadap pemerintahan militer dan juga pemerkosaan dan pembunuhan 4 orang biarawati Katolik yang setiap harinya membantu para penduduk Salvador yang menderita akibat krisis politik tsb.

Utk akting para pemainnya, James Wood memerankan dengan baik seorang Boyle yang ugal2an, sinis dan terkadang bodoh. James Belushi sebagai pendukung juga bermain lumayan.

Memang di sini Stone menjual kebobrokan militer AS dan pemerintahan milter Salvador, dan ini berhasil dijual oleh Stone dalam film ini. Tetapi walaupun begitu, Stone juga menampilkan kebobrokan milisi komunis yang membunuh para tawanan.

Yah, apapun rezim yang menggantikan, yang susah pastilah rakyat kecil...

7.5/10

*film ini based on true story loh... :D

Law Abiding Citizen (2009)

Ahhhh... Dah lama gw kagak jamah ne blog. Sooo, spy blog gw ga nganggur, gw mau isi blog gw sementara dg review2 film yang udah gw tonton....

Harap maklum klo nanti baca review film dari gw... Soalnya saya bukan pengamat film jempolan macam Roger Ebert atau Noorca M. Masardi... heheheee... Lgpl gw selalu berpendapat bhw kadar bagus atau tidaknya sebuah film kembali lagi pada penilaian masing2 penonton...

Soo, nikmati aja review2 film dari gw... semoga tidak menyesatkan anda.. heheheheee...

*klo blog pacar mayoritas review makanan atau restoran gt, gw mau nandingin dg review2 film di blog gw... hohohohohhooooo... :gamokalahmodon:

Okeeeeeeeeee.... cukup sudah segala cincongnya... gw mau review film pertama :

=============================================================

Law Abiding Citizen



Director : F. Gary Gray
Writter : Kurt Wimmer


Cast :
Gerard Butler : Clyde Shelton

Jamie Foxx : Nick Rice


Rilis : Oktober 2009


Story :

Clyde Shelton tampaknya adalah pria yang beruntung. Memiliki istri cantik dan baik serta putri kecil yang lucu. Tetapi dalam satu malam, keberuntungannya berubah menjadi tragedi. Dua orang penjahat menyatroni rumahnya, seorang penjahat mengikat dan menusuk perutnya. Istrinya yang melihat pun akhirnya ditangkap, diikat, ditusuk perutnya dan diperkosa. Anaknya yang datang juga tidak luput mendapat perlakuan serupa. Semua ini dilakukan di hadapan Clyde yang tidak dapat berbuat apa2.

Ketika para penjahat berhasil ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Clyde mendapati bahwa sistem hukum tidak berpihak pada dirinya. Memang satu penjahat dihukum mati, tetapi satu orang yang membantai keluarganya malah hanya mendapat tuntutan pembunuhan tingkat tiga dan hanya dipenjara 5 tahun. Jaksa penuntut, Nick Rice tidak dapat memberikan hasil yang maksimal bagi kepentingan Clyde.

10 tahun kemudian, satu persatu orang yang pernah terlibat dalam kasus Clyde mati dengan cara yang mengenaskan. Clyde pun ditangkap. Tapi ini tidak lantas menghentikan aksi2 Clyde utk menuntut balas.


Review :

Sebagai film yang jauh dari promosi gencar, Law Abiding Citizen ternyata hadir sebagai film yang memiliki skenario kuat dan didukung dengan akting para pemainnya yang maksimal. Gary Gray, sebagai sutradara dapat membuat film bertema hukum ini tidak sulit utk dicerna bagi para penonton yang awam dg masalah hukum.

Dibandingkan dengan Michael Clayton yang jalinan ceritanya rumit dan berliku. Law Abiding Citizen hadir sebagai film yang bagus dan menghibur. Satu lagi kelebihan film ini adalah menyuguhkan berbagai taktik dan strategi tingkat tinggi dari seorang Clyde utk menjalankan rencana2 pembalasannya.

Butler, yang biasanya dikenal sebagai aktor macho dan sering bermain dalam peran2 brutal ternyata bisa hadir sebagai ayah yang baik dan suami yang manis. Tetapi kemudian bisa berubah menjadi pria pemarah setelah hukum tidak berpihak padanya. Merupakan terobosan peran yang baik buat Butler.

Tetapi jauh lebih lagi adalah film ini menyentil sedikit rasa keadilan kita setelah menontonnya. Seperti apakah keadilan itu sesungguhnya? Apakah hukum yang bertugas utk mengawalnya sudah cukup baik utk mengawal keadilan tsb? Dan lebih terpenting lagi adalah apa yang akan anda lakukan jika anda sekarang berdiri sebagai seorang Clyde?

8/10